Kamis, 14 Agustus 2014

EKSTRAK DAUN PANDAN dan DAUN PEPAYA



EXTRACT THE EFFECTIVENESS FRAGRANT PANDAN LEAVES (Pandanus amaryllifolius Roxb.) LEAVES AND PAPAYA (Carica
papaya) AS OF LARVAE LARVICIDES OF Aedes sp

Fendry Bayu Karlita, Deri Kermelita, SKM, MPH, Jubaidi, SKM, M.Kes

Poltekkes Kemenkes Bengkulu , Prodi D-III Kesehatan Lingkungan, Jl. Indragiri No.03 Padang Harapan Kota Bengkulu

ABSTRACT
Indonesia has a very diverse flora as an insecticide for the control of disease vectors including the fragrant pandan and papaya. Fragrant pandan leaves contain alkaloids, saponins, flavonoids, tannins and polyphenols. While papaya contains papain. The purpose of the study is unknown effectiveness and fragrant pandan leaf extract of papaya leaves as larvicides against Aedes sp (instars III and IV). The study design is a true experiment design using Post Test Only Control Group Design. Research subjects with 25 larvae of Aedes sp tail that extract material is contacted with 2, 4 concentration by the method of maceration and 1 control were performed 3 times repetition of treatment. Data were analyzed using One Way ANOVA test followed by Bonferroni test. The results of one way ANOVA Test average of larvae that died at the addition of fragrant pandan leaf extract at a concentration of 01% effective at 25 tail (100%). While the addition of papaya leaf extract at a concentration of 1% ie 24 individuals (96%). There are differences in the average number of larvae of Aedes sp death in addition fragrant pandan leaf extract and papaya leaf at the same concentration. Where the average number of larvae of Aedes sp death in addition fragrant pandan leaf extract more than the papaya extract. Fragrant pandan leaf extract is more effective as larvicides against Aedes sp compared to papaya leaf extract at the same concentration. Further research needs to be conducted on compounds such as saponins, tannins, flavonoids, polyphenols and papain which can be used as larvicides against Aedes sp.

Keywords       : Extract, Pandan Wangi, Papaya, Concentration

ABSTRAK

Indonesia memiliki flora yang sangat beragam sebagai bahan insektisida untuk pengendalian vektor penyakit diantaranya adalah pandan wangi dan pepaya. Daun pandan wangi mengandung alkaloida, saponin,  flavonoida, tanin dan polifenol. Sedangkan daun pepaya mengandung papain. Tujuan penelitian adalah diketahui efektifitas ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp (instar III dan IV). Desain penelitian adalah true eksperimen dengan menggunakan  rancangan Post Test Only Control Group Design. Subjek penelitian yaitu 25 ekor ekor larva Aedes sp yang dikontakkan dengan 2 bahan ektrak, 4 konsentrasi dengan metode maserasi dan 1 kontrol, dilakukan 3 kali pengulangan perlakuan. Data dianalisis menggunakan Uji One Way Anova yang diteruskan dengan Uji Bonferroni. Hasil Uji one way anova rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi efektif pada konsentrasi 01% yaitu 25 ekor (100%). Sedangkan penambahan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 1% yaitu 24 ekor (96%). Ada perbedaan jumlah rata-rata kematian larva Aedes sp pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya pada konsentrasi yang sama. Dimana jumlah rata-rata kematian larva Aedes sp pada penambahan ekstrak daun pandan wangi lebih banyak dibandingkan dengan ekstrak daun pepaya.Ekstrak daun pandan wangi lebih efektif sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp dibandingkan dengan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi yang sama. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai senyawa-senyawa seperti saponin, tanin, flavonoida, polifenol dan papain yang dapat digunakan sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp.
 
Kata Kunci     : Ekstrak, Pandan Wangi, Pepaya, Konsentrasi



Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang biasa disebut  Dengue Haemorrahagic Fever (DHF) merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang. Penyakit ini disebabkan oleh 4 serotipe virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Masyarakat saat ini melakukan pemberantasan secara kimiawi yaitu dengan cara pemberian larvasida kimiawi seperti temefos (abate). Abate yang ditaburkan pada tempat penampungan air akan menempel pada dinding-dinding penampungan air dan dapat bertahan selama 2-3 bulan. Abate tidak dianjurkan untuk digunakan pada tempat penampungan air minum. Karena apabila terlalu banyak terkonsumsi abate maka akan menimbulkan sakit kepala dan iritasi (Kardinan, 2009).
Cara pengendalian vektor yang diteliti saat ini dan sedang dikembangkan dan mempunyai prospek baik dalam penggunaan insektisida hayati karena penggunaan insektisida hayati mempunyai sifat mudah terurai menjadi senyawa-senyawa yang tidak terakumulasi sehingga kemungkinan terjadinya resistensi kecil serta kurang berdampak negatif pada lingkungan serta baik untuk digunakan.
Penelitian  tentang  famili  tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida botani telah banyak dilaporkan. Pratama, AB (2008) meneliti tentang ekstrak daun pandan wangi (Pandanus  amaryllifolius  Roxb.) sebagai larvasida alami. Veriswan, I (2006) meneliti tentang perbandingan efektifitas abate dengan papain dalam menghambat pertumbuhan larva Aedes sp.
Dengan melihat latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Apakah ada perbedaan jumlah kematian larva Aedes sp (instar III dan instar IV) pada penambahan ekstrak daun pandan wangi (Pandanus  amaryllifolius  Roxb.) dan daun pepaya (Carica papaya) pada konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%.
Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui efektifitas ektrak daun pandan wangi dan daun pepaya dengan metode maserasi pada konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%.
BAHAN DAN CARA KERJA
Alat yang digunakan yaitu gelas kaca, kain kasa, stik es krim, cat hitam, baskom, gelas kimia 1000 ml, penjepit, alat ekstraksi, labu ukur 100 ml, kertas saring, corong, botol kaca gelap, batang pengaduk, mortar, pastel dan water bath. Bahan yang digunakan yaitu air, pelet ikan, alkohol 96%, akuades, daun pandan wangi dan daun pepaya .
Prosedur Kerja
Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pembuatan ovitrap untuk menangkap telur nyamuk Aedes sp. Kemudian melakukan kolonisasi untuk menetaskan telur menjadi larva Aedes sp. Selama proses kolonisasi dilakukan juga pembuatan ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus  amaryllifolius  Roxb.) dan Daun Pepaya (Carica papaya) dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%.
Perlakuan
Mengatur pH dan suhu air yang akan digunakan sebanyak 1 liter pada setiap 9 baskom dengan jumlah 25 larva. Kemudian melakukan perlakuan ekstrak pada ke-8 baskom dengan ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus  amaryllifolius  Roxb.) dan Daun Pepaya (Carica papaya) dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%. Untuk 1 baskom digunakan sebagai kontrol tanpa perlakuan ekstrak. Menghitung jumlah larva yang mati dengan counter setelah 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1  jam sampai 6 jam dan 24 jam setelah pemberian ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya. Pengulangan perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali.
Hasil dan Pembahasan
Analisis Univariat
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Bengkulu pada 24 April s.d 24 Juni diperoleh data jumlah larva yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya dengan berbagai variasi konsentrasi sebagai berikut :
Tabel 4.1 Jumlah Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Ekstrak Daun Pandan Wangi Setelah 24 Jam Perlakuan
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 25 ekor larva Aedes sp setelah dilakukan kontak selama 24 jam dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak pandan wangi, 100% mati pada konsentrasi 1%.
Tabel 4.2 Jumlah Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Ekstrak Daun Pepaya Setelah 24 Jam Perlakuan
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 25 ekor larva Aedes sp setelah dilakukan kontak selama 24 jam dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak pandan wangi, 96% mati pada konsentrasi 1%.
Analisis Bivariat
Uji One Way Anova
Uji One Way Anova ini digunakan untuk menguji sebuah rancangan variabel lebih dari satu, uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan jumlah larva yang mati pada penambahan eksrtak daun pandan wangi dan daun pepaya dengan berbagai variasi konsentrasi.
Tabel 4.3 Hasil Uji One Way Anova Jumlah Larva yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Daun Pandan Wangi dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Setelah 24 Jam Perlakuan

Pada tabel 4.3 hasil Uji One Way Anova didapat nilai ρ = 0,000 < 0,05 dapat diartikan bahwa secara statistik Ho ditolak dan Ha diterima, disimpulkan bahwa ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dengan konsentrasi (0,01%, 0,1%, 0,5%, 1%).
Tabel 4.4 Hasil Uji One Way Anova Jumlah Larva yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Daun Pepaya dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Setelah 24 Jam Perlakuan 



Pada tabel 4.4 hasil Uji One Way Anova didapat nilai ρ = 0,000 < 0,05 dapat diartikan bahwa secara statistik Ho ditolak dan Ha diterima, disimpulkan bahwa ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi (0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%).
b. Uji Bonferroni
Untuk mengetahui rata-rata beda jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya dengan berbagai variasi konsentrasi serta kontrol, dilakukan Uji Bonferroni. Hasil Uji Bonferroni dapat dilihat pada tabel 4.5 dan 4.6
Tabel 4.5 Hasil Uji Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk Aedes sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Daun Pandan Wangi Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi




Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa  ekstrak daun pandan wangi efektif pada konsentrasi 1% dilihat dari selisih rata-rata beda larva nyamuk Aedes sp yang mati dengan perlakuan ekstrak 0,01% paling tinggi yaitu 7,33 ekor.
Tabel 4.6 Hasil Uji Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk Aedes sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Daun Pepaya Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa  ekstrak daun pepaya efektif pada konsentrasi 1% dilihat dari selisih rata-rata beda larva nyamuk Aedes sp yang mati dengan perlakuan ekstrak 0,01% paling tinggi yaitu 12,33 ekor.

Grafik 4.1 Jumlah Kematian Larva Aedes sp Pada Penambahan Ekstrak Daun Pandan Wangi Dan Daun Pepaya Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Setelah 24 Jam Perlakuan
Berdasarkan grafik 4.1 Penambahan ekstrak daun pandan wangi lebih efektif dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi yang sama.
Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis univariat pada tabel 4.1 dari masing-masing variasi konsentrasi penambahan ekstrak daun pandan wangi setelah dikontakkan selama 24 jam, 100% mati pada konsentrasi 24 jam. Hasil analisis univariat pada tabel 4.2 dari masing-masing variasi konsentrasi penambahan ekstrak daun pepaya setelah dikontakkan selama 24 jam, kematian tertinggi larva yaitu 96% pada konsentrasi 1%.
Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan kehidupan larva Aedes sp, suhu air yang sesuai untuk perkembangan larva Aedes sp antara 25oC - 30oC (Katyal, 2001).
Derajat keasaman (pH) air juga mempengaruhi kehidupan larva Aedes sp. Larva Aedes sp dapat hidup pada pH antara 5,8 – 8,6 (Hidayat, 1997).
Penambahan ekstrak konsentrasi 1% merupakan perlakuan dengan konsentrasi tertinggi yang digunakan, sehingga pada penambahan ektrak daun pandan wangi dengan konsentrasi 1% kandungan saponin, tanin dan flavonoida lebih banyak dibandingkan dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, dan 0,05%, sehingga pada konsentrasi 1% efektif untuk membunuh larva Aedes sp sebesar 100%. Sedangkan penambahan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1% kandungan papain lebih banyak dibandingkan dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, dan 0,05%. Sehingga kematian tertinggi larva yaitu pada konsentrasi 1% yaitu sebesar 96%.
Penelitian ini menggunakan 2 jenis ekstrak yaitu ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius  Roxb.) dan daun pepaya (Carica papaya) dengan 4 variasi konsentrasi yaitu 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%..
Hasil analisis bivariat pada tabel 4.3 dan 4.4 yaitu Uji One Way Anova diketahui bahwa ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius  roxb.) dan daun pepaya (Carica papaya) mempunyai kemampuan untuk mematikan larva Aedes sp. Ini dapat dilihat dari nilai ρ value 0,000<0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.
Uji Bonferroni pada tabel 4.5 dan 4.6 memperlihatkan bahwa dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya konsentrasi 1%  yang paling efektif dalam mematikan larva Aedes sp. Hal tersebut memperlihatkan bahwa, semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin efektif dalam mematikan larva Aedes sp.
Kemampuan ekstrak daun pandan wangi dalam membunuh larva Aedes sp dikarenakan adanya kandungan saponin, tanin dan flavonoida dalam daun pandan wangi. Diketahui bahwa saponin dapat menghambat dan membunuh larva nyamuk. Saponin dapat merusak sel dan mengganggu proses metabolisme serangga. Sedangkan kemampuan ekstrak daun pepaya dalam membunuh larva Aedes sp dikarenakan adanya kandungan zat papain dalam daun pepaya (Aminah, 2001).
Papain akan memecah protein-protein yang diperlukan untuk perkembangan larva Aedes sp (Veriswan, 2006).
Berdasarkan grafik 4.1 menunjukkan ada perbedaan jumlah kematian larva Aedes sp dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius  Roxb.) dan daun pepaya (Carica papaya). Dimana pada konsentrasi 0,01% kematian dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi  lebih besar dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya yaitu 72% : 48%. Pada konsentrasi 0,1% kematian dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi  lebih besar dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya yaitu 80% : 64%. Pada konsentrasi 0,5% kematian dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi  lebih besar dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya yaitu 96% : 84%. Pada konsentrasi 1% kematian dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi  lebih besar dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya yaitu 100% : 96%.
Kemampuan ekstrak daun pandan wangi sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp lebih efektif dibandingkan dengan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi yang sama. Kandungan saponin, tanin dan flavonoida dalam daun pandan wangi lebih berpengaruh dalam membunuh larva Aedes sp dibandingan dengan papain yang terkandung dalam ekstrak daun pepaya.
Kesimpulan
Jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dengan konsentrasi 0,01% adalah 18 ekor, konsentrasi 0,1% adalah 20 ekor, konsentrasi 0,5% adalah 24 ekor, dan konsentrasi 1% adalah 25 ekor.
Jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 0,01% adalah 12 ekor, konsentrasi 0,1% adalah 16 ekor, konsentrasi 0,5% adalah 21 ekor, dan konsentrasi 1% adalah 24 ekor.
Perbedaan jumlah larva Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya pada konsentrasi 0,01% adalah 6 ekor, konsentrasi 0,1% adalah 4 ekor, konsentrasi 0,5% adalah 3 ekor, dan konsentrasi 1% adalah 1 ekor.
Jumlah larva Aedes sp yang mati lebih banyak pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi yang sama.
DAFTAR RUJUKAN
Kardinan, A. 2007. Potensi Salasih Sebagai Repellent Terhadap Nyamuk Aedes aegypti, Jurnal Littri Vol. 13, No. 2, Juni 2007 : 39-42
Pratama, AB. 2009. Pemanfaatan Estrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Sebagai Larvasida Alami. Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol. 2, No. 2, Desember 2009 : 115-124
Veriswan, I. 2006. Perbandingan Efektifitas Abate dengan Papain Dalam Menghambat Pertumbuhan Larva Aedes aegypti. Skripsi, Universitas Dipanegoro. Semarang
Katyal, 2001. Susceptibility Status of Immature and Adult Dengue Bulletin Stages of Aedes aegypti Against Conventional Insecticides in Delhi, India. Vol 25, Hal : 84-87
Hidayat, 1997. Pengaruh pH Air Perindukan terhadap Pertumbuhan dan  Perkembangan Aedes aegypti Pra Dewasa. Cermin Dunia Kedokteran. No.119, Hal : 47-49
Aminah, 2001. S. larak, D.metel, dan E. prostata sebagai Larvasida Aedes aegypti. Cermin Dunia Kedokteran. No. 131. Hal : 7 - 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar