EXTRACT THE
EFFECTIVENESS FRAGRANT PANDAN LEAVES (Pandanus
amaryllifolius Roxb.) LEAVES AND PAPAYA (Carica
papaya) AS OF LARVAE LARVICIDES OF Aedes sp
Fendry
Bayu Karlita, Deri Kermelita, SKM, MPH, Jubaidi, SKM, M.Kes
Poltekkes
Kemenkes Bengkulu , Prodi D-III Kesehatan Lingkungan, Jl. Indragiri No.03
Padang Harapan Kota Bengkulu
ABSTRACT
Indonesia has a very diverse flora as an
insecticide for the control of disease vectors including the fragrant pandan
and papaya. Fragrant pandan leaves contain alkaloids,
saponins, flavonoids, tannins and polyphenols. While papaya contains papain. The purpose of the study is
unknown effectiveness and fragrant pandan leaf extract of papaya leaves as larvicides
against Aedes sp (instars III and
IV). The study design is a true experiment design using Post Test Only Control
Group Design. Research subjects with 25 larvae of Aedes sp tail that extract material is contacted with 2, 4
concentration by the method of maceration and 1 control were performed 3 times
repetition of treatment. Data were analyzed using One Way ANOVA test followed
by Bonferroni test. The results of one way ANOVA Test average of larvae that
died at the addition of fragrant pandan leaf extract at a concentration of 01%
effective at 25 tail (100%). While the addition of papaya leaf extract at a
concentration of 1% ie 24 individuals (96%). There are differences in the
average number of larvae of Aedes sp
death in addition fragrant pandan leaf extract and papaya leaf at the same
concentration. Where the average number of larvae of Aedes sp death in addition
fragrant pandan leaf extract more than the papaya extract. Fragrant pandan leaf
extract is more effective as larvicides against Aedes sp compared to papaya leaf extract at the same concentration.
Further research needs to be conducted on compounds such as saponins, tannins,
flavonoids, polyphenols and papain which can be used as larvicides against Aedes sp.
Keywords : Extract, Pandan
Wangi, Papaya, Concentration
ABSTRAK
Indonesia memiliki
flora yang sangat beragam sebagai bahan insektisida untuk
pengendalian vektor penyakit diantaranya adalah pandan wangi dan pepaya. Daun pandan wangi mengandung alkaloida, saponin, flavonoida, tanin dan polifenol. Sedangkan daun pepaya
mengandung papain. Tujuan penelitian
adalah diketahui efektifitas ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya
sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp
(instar III dan IV). Desain penelitian adalah true eksperimen dengan menggunakan
rancangan Post Test Only Control
Group Design. Subjek penelitian yaitu 25 ekor ekor larva Aedes sp yang dikontakkan dengan 2 bahan
ektrak, 4 konsentrasi dengan metode maserasi
dan 1 kontrol, dilakukan 3 kali pengulangan perlakuan. Data dianalisis
menggunakan Uji One Way Anova yang
diteruskan dengan Uji Bonferroni.
Hasil Uji one way anova rata-rata
larva yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi efektif pada
konsentrasi 01% yaitu 25 ekor (100%). Sedangkan penambahan ekstrak daun pepaya
pada konsentrasi 1% yaitu 24 ekor (96%). Ada perbedaan jumlah rata-rata kematian
larva Aedes sp pada penambahan
ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya pada konsentrasi yang sama. Dimana
jumlah rata-rata kematian larva Aedes sp
pada penambahan ekstrak daun pandan wangi lebih banyak dibandingkan dengan
ekstrak daun pepaya.Ekstrak daun pandan wangi lebih efektif sebagai larvasida
terhadap larva Aedes sp dibandingkan
dengan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi yang sama. Perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut mengenai senyawa-senyawa seperti saponin, tanin, flavonoida, polifenol
dan papain yang dapat digunakan
sebagai larvasida terhadap larva Aedes
sp.
Kata
Kunci : Ekstrak,
Pandan Wangi, Pepaya, Konsentrasi
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang biasa disebut
Dengue Haemorrahagic Fever
(DHF) merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara
berkembang. Penyakit ini disebabkan
oleh 4 serotipe virus dengue dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus.
Masyarakat saat ini
melakukan pemberantasan secara kimiawi yaitu dengan cara pemberian larvasida
kimiawi seperti temefos (abate). Abate yang ditaburkan pada tempat penampungan
air akan menempel pada dinding-dinding penampungan air dan dapat bertahan
selama 2-3 bulan. Abate tidak dianjurkan untuk digunakan pada tempat
penampungan air minum. Karena apabila terlalu banyak terkonsumsi abate maka
akan menimbulkan sakit kepala dan iritasi (Kardinan, 2009).
Cara pengendalian vektor yang diteliti saat ini dan sedang
dikembangkan dan mempunyai prospek baik dalam penggunaan insektisida hayati
karena penggunaan insektisida hayati mempunyai sifat mudah terurai menjadi
senyawa-senyawa yang tidak terakumulasi sehingga kemungkinan terjadinya
resistensi kecil serta kurang berdampak negatif pada lingkungan serta baik
untuk digunakan.
Penelitian tentang
famili tumbuhan yang berpotensi
sebagai insektisida botani telah banyak dilaporkan. Pratama, AB (2008) meneliti tentang ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) sebagai larvasida alami. Veriswan, I (2006) meneliti tentang
perbandingan efektifitas abate dengan papain
dalam menghambat pertumbuhan larva Aedes
sp.
Dengan
melihat latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
“Apakah
ada perbedaan jumlah kematian larva Aedes
sp (instar III dan
instar IV)
pada penambahan ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dan daun
pepaya (Carica papaya) pada konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%.
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui efektifitas ektrak daun pandan wangi dan daun
pepaya dengan metode maserasi pada konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%.
BAHAN DAN CARA KERJA
Alat
yang digunakan yaitu
gelas kaca, kain kasa, stik es krim, cat hitam, baskom, gelas kimia 1000 ml,
penjepit, alat ekstraksi, labu ukur 100 ml, kertas saring, corong, botol kaca
gelap, batang pengaduk, mortar, pastel dan water bath. Bahan yang digunakan yaitu air, pelet ikan,
alkohol 96%, akuades, daun pandan wangi dan daun pepaya .
Prosedur Kerja
Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pembuatan ovitrap
untuk menangkap telur nyamuk Aedes sp.
Kemudian melakukan kolonisasi untuk menetaskan telur menjadi larva Aedes sp. Selama proses kolonisasi
dilakukan juga pembuatan ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dan Daun Pepaya (Carica papaya) dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%.
Perlakuan
Mengatur pH dan suhu air yang akan digunakan sebanyak 1 liter pada setiap 9
baskom dengan jumlah 25 larva. Kemudian melakukan perlakuan ekstrak pada ke-8
baskom dengan ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dan Daun Pepaya (Carica papaya) dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%. Untuk 1
baskom digunakan sebagai kontrol tanpa perlakuan ekstrak. Menghitung jumlah
larva yang mati dengan counter setelah 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam sampai 6 jam dan 24 jam setelah pemberian
ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya. Pengulangan perlakuan dilakukan sebanyak
3 kali.
Hasil dan Pembahasan
Analisis Univariat
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Bengkulu pada 24
April s.d 24 Juni diperoleh data
jumlah larva yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dan daun
pepaya dengan berbagai variasi konsentrasi
sebagai berikut :
Tabel 4.1 Jumlah Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi
Konsentrasi Ekstrak Daun Pandan Wangi Setelah 24 Jam Perlakuan
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 25 ekor larva Aedes sp setelah dilakukan kontak selama 24 jam dengan berbagai
variasi konsentrasi ekstrak pandan wangi, 100% mati pada konsentrasi 1%.
Tabel 4.2 Jumlah Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi
Ekstrak Daun Pepaya Setelah 24 Jam Perlakuan
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 25 ekor larva Aedes sp setelah dilakukan kontak selama 24 jam dengan berbagai
variasi konsentrasi ekstrak pandan wangi, 96% mati pada konsentrasi 1%.
Analisis Bivariat
Uji One Way Anova
Uji One Way Anova
ini digunakan untuk menguji sebuah rancangan variabel lebih dari satu, uji ini
digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan jumlah larva yang mati pada
penambahan eksrtak daun pandan wangi dan daun pepaya dengan berbagai variasi
konsentrasi.
Tabel 4.3 Hasil Uji
One Way Anova Jumlah Larva yang Mati
Pada Penambahan Ekstrak Daun Pandan Wangi dengan Berbagai Variasi Konsentrasi
Setelah 24 Jam Perlakuan
Pada tabel 4.3
hasil Uji One Way Anova didapat nilai ρ = 0,000
< 0,05 dapat diartikan bahwa secara statistik Ho ditolak dan Ha diterima,
disimpulkan bahwa ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dengan
konsentrasi (0,01%, 0,1%, 0,5%, 1%).
Tabel 4.4 Hasil Uji
One Way Anova Jumlah Larva yang Mati
Pada Penambahan Ekstrak Daun Pepaya dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Setelah
24 Jam Perlakuan
Pada tabel 4.4
hasil Uji One Way Anova didapat nilai ρ = 0,000
< 0,05 dapat diartikan bahwa secara statistik Ho ditolak dan Ha diterima,
disimpulkan bahwa ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pepaya dengan
konsentrasi (0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%).
b.
Uji Bonferroni
Untuk mengetahui
rata-rata beda jumlah larva nyamuk Aedes
sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dan daun pepaya
dengan berbagai variasi konsentrasi serta kontrol, dilakukan Uji Bonferroni.
Hasil Uji Bonferroni dapat dilihat pada tabel 4.5 dan 4.6
Tabel 4.5 Hasil
Uji Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk
Aedes sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Daun Pandan Wangi Dengan Berbagai
Variasi Konsentrasi
Berdasarkan
tabel 4.5 diketahui bahwa ekstrak daun
pandan wangi efektif pada konsentrasi 1% dilihat dari selisih rata-rata beda
larva nyamuk Aedes sp yang mati
dengan perlakuan ekstrak 0,01% paling tinggi yaitu 7,33 ekor.
Tabel 4.6 Hasil Uji
Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk Aedes
sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Daun Pepaya Dengan Berbagai Variasi
Konsentrasi
Berdasarkan
tabel 4.6 diketahui bahwa ekstrak daun
pepaya efektif pada konsentrasi 1% dilihat dari selisih rata-rata beda larva
nyamuk Aedes sp yang mati dengan
perlakuan ekstrak 0,01% paling tinggi yaitu 12,33 ekor.
Grafik 4.1 Jumlah Kematian Larva Aedes sp Pada Penambahan Ekstrak Daun
Pandan Wangi Dan Daun Pepaya Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Setelah 24 Jam
Perlakuan
Berdasarkan grafik 4.1 Penambahan
ekstrak daun pandan wangi lebih efektif dibandingkan dengan penambahan ekstrak
daun pepaya pada konsentrasi yang sama.
Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis univariat pada tabel 4.1 dari
masing-masing variasi konsentrasi penambahan ekstrak daun pandan wangi setelah
dikontakkan selama 24 jam, 100% mati pada konsentrasi 24 jam. Hasil analisis
univariat pada tabel 4.2 dari masing-masing variasi konsentrasi penambahan ekstrak daun pepaya setelah
dikontakkan selama 24 jam, kematian tertinggi larva yaitu 96% pada konsentrasi
1%.
Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
perkembangan dan kehidupan larva Aedes sp,
suhu air yang sesuai untuk perkembangan larva Aedes sp antara 25oC - 30oC (Katyal, 2001).
Derajat keasaman (pH) air juga mempengaruhi kehidupan
larva Aedes sp. Larva Aedes sp dapat hidup pada pH antara 5,8
– 8,6 (Hidayat, 1997).
Penambahan ekstrak konsentrasi 1% merupakan perlakuan
dengan konsentrasi tertinggi yang digunakan, sehingga pada penambahan ektrak
daun pandan wangi dengan konsentrasi 1% kandungan saponin, tanin dan flavonoida
lebih banyak dibandingkan dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, dan 0,05%, sehingga
pada konsentrasi 1% efektif untuk membunuh larva Aedes sp sebesar 100%. Sedangkan penambahan ekstrak daun pepaya
dengan konsentrasi 1% kandungan papain
lebih banyak dibandingkan dengan konsentrasi 0,01%, 0,1%, dan 0,05%. Sehingga
kematian tertinggi larva yaitu pada konsentrasi 1% yaitu sebesar 96%.
Penelitian ini menggunakan 2 jenis ekstrak yaitu ekstrak
daun pandan wangi (Pandanus
amaryllifolius Roxb.) dan daun pepaya (Carica papaya) dengan 4 variasi
konsentrasi yaitu 0,01%, 0,1%, 0,5% dan 1%..
Hasil analisis bivariat pada tabel 4.3 dan 4.4 yaitu Uji One Way Anova diketahui bahwa ekstrak
daun pandan wangi (Pandanus
amaryllifolius roxb.) dan daun
pepaya (Carica papaya) mempunyai
kemampuan untuk mematikan larva Aedes sp.
Ini dapat dilihat dari nilai ρ value
0,000<0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.
Uji Bonferroni
pada tabel 4.5 dan 4.6 memperlihatkan bahwa dengan penambahan ekstrak daun
pandan wangi dan daun pepaya konsentrasi 1%
yang paling efektif dalam mematikan larva Aedes sp. Hal tersebut memperlihatkan bahwa, semakin tinggi
konsentrasi yang digunakan maka semakin efektif dalam mematikan larva Aedes sp.
Kemampuan ekstrak daun pandan wangi dalam membunuh larva Aedes sp dikarenakan adanya kandungan saponin, tanin dan flavonoida dalam daun pandan wangi. Diketahui bahwa saponin dapat menghambat dan membunuh
larva nyamuk. Saponin dapat merusak sel dan mengganggu
proses metabolisme serangga. Sedangkan kemampuan ekstrak daun pepaya dalam
membunuh larva Aedes sp dikarenakan
adanya kandungan zat papain dalam
daun pepaya (Aminah, 2001).
Papain akan memecah
protein-protein yang diperlukan untuk perkembangan larva Aedes sp (Veriswan, 2006).
Berdasarkan grafik 4.1 menunjukkan ada perbedaan jumlah
kematian larva Aedes sp dengan
penambahan ekstrak daun pandan wangi (Pandanus
amaryllifolius Roxb.) dan daun pepaya (Carica papaya). Dimana pada konsentrasi
0,01% kematian dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi lebih besar dibandingkan dengan penambahan
ekstrak daun pepaya yaitu 72% : 48%. Pada konsentrasi 0,1% kematian dengan
penambahan ekstrak daun pandan wangi
lebih besar dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya yaitu 80%
: 64%. Pada konsentrasi 0,5% kematian dengan penambahan ekstrak daun pandan
wangi lebih besar dibandingkan dengan
penambahan ekstrak daun pepaya yaitu 96% : 84%. Pada konsentrasi 1% kematian
dengan penambahan ekstrak daun pandan wangi
lebih besar dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya yaitu
100% : 96%.
Kemampuan ekstrak
daun pandan wangi sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp lebih efektif dibandingkan dengan ekstrak daun pepaya pada
konsentrasi yang sama. Kandungan saponin,
tanin dan flavonoida dalam daun
pandan wangi lebih berpengaruh dalam membunuh larva Aedes sp dibandingan dengan papain
yang terkandung dalam ekstrak daun pepaya.
Kesimpulan
Jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak
daun pandan wangi dengan konsentrasi 0,01% adalah 18 ekor, konsentrasi 0,1%
adalah 20 ekor, konsentrasi 0,5% adalah 24 ekor, dan konsentrasi 1% adalah 25
ekor.
Jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak
daun pepaya dengan konsentrasi 0,01% adalah 12 ekor, konsentrasi 0,1% adalah 16
ekor, konsentrasi 0,5% adalah 21 ekor, dan konsentrasi 1% adalah 24 ekor.
Perbedaan jumlah larva Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak daun pandan wangi dan
daun pepaya pada konsentrasi 0,01% adalah 6 ekor, konsentrasi 0,1% adalah 4
ekor, konsentrasi 0,5% adalah 3 ekor, dan konsentrasi 1% adalah 1 ekor.
Jumlah larva Aedes
sp yang mati lebih banyak pada penambahan ekstrak daun pandan wangi
dibandingkan dengan penambahan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi yang sama.
DAFTAR
RUJUKAN
Kardinan,
A. 2007. Potensi Salasih Sebagai Repellent Terhadap Nyamuk Aedes aegypti, Jurnal Littri Vol. 13, No. 2, Juni 2007
: 39-42
Pratama,
AB. 2009. Pemanfaatan Estrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Sebagai Larvasida Alami. Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, Vol.
2, No. 2, Desember 2009 : 115-124
Veriswan,
I. 2006. Perbandingan Efektifitas Abate dengan Papain Dalam Menghambat
Pertumbuhan Larva Aedes aegypti. Skripsi,
Universitas Dipanegoro. Semarang
Katyal, 2001. Susceptibility Status of Immature and Adult Dengue
Bulletin Stages of Aedes aegypti Against Conventional Insecticides in Delhi, India. Vol 25,
Hal : 84-87
Hidayat, 1997. Pengaruh pH Air
Perindukan terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Aedes aegypti Pra Dewasa. Cermin
Dunia Kedokteran. No.119, Hal :
47-49
Aminah, 2001. S.
larak, D.metel, dan E. prostata sebagai Larvasida Aedes aegypti. Cermin Dunia Kedokteran. No. 131. Hal : 7 - 9






Tidak ada komentar:
Posting Komentar