Kamis, 14 Agustus 2014

KOMPOS TOMAT BUSUK



EFEKTIVITAS INOKULAN LIMBAH TOMAT SEBAGAI  BIOSTARTER TERBENTUKNYA KOMPOS

Bayu Saputra Ilahi, Haidina Ali, Gamaiwarivoni
Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Prodi D-III Kesehatan Lingkungan, Jl. Indragiri No. 03
Padang Harapan Kota Bengkulu

ABSTRAK
Latar Belakang : Pada tahun 2012 Kota Bengkulu menghasilkan timbulan sampah sebanyak 156,662 m3/hari. Disisi lain terjadi kelangkaan pupuk, sehingga masyarakat dirugikan karena menurunnya hasil pertanian. Untuk itu dengan memanfaatkan limbah tomat, sampah organik dapat dijadikan pupuk (kompos). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas inokulan limbah tomat sebagai biostarter terhadap lama waktu terbentuknya kompos.
Metode : Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan “Posttest Only Control Group Design”. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan. Dengan jumlah perlakuan 15 perlakuan. Analisis penelitian secara univariat dan bivariat dengan melakukan uji One Way Anova dilanjutkan dengan uji Bonferroni.
Hasil : Hasil penelitian bahwa rata-rata lama waktu (hari) pembentukan kompos sampah organik dengan penambahan inokulan limbah tomat dosis 100 gram yaitu 32 hari, dosis 200 gram selama 30 hari, dan dosis 300 gram selama 28 hari. Penambahan  inokulan limbah tomat dengan dosis 300 gram merupakan dosis yang paling efektif dalam pembentukan kompos sampah organik (ρ= 0,000 < α= 0,05).
Saran : Diharapkan penelitian penggunaan limbah tomat dalam pembuatan kompos sampah organik ini dapat menjadi sebuah solusi khususnya bagi masyarakat dalam  mengatasi masalah sampah.

Kata Kunci                : Kompos, Limbah Tomat
Daftar Pustaka          : 1999 - 2013

ABSTRACT

Background: In 2012 Bengkulu produce landfill waste as much as 156.662 m3 / day. On the other hand there is a shortage of fertilizer, so that people disadvantaged because of declining agricultural output. For that by utilizing waste tomatoes, organic waste can be used as fertilizer (compost). The purpose of the study was to determine the effectiveness of inoculant tomato waste as much time biostarter the formation of compost.
Methods: This research conducted an experimental study using the "Posttest Only Control Group Design". This study was done using two groups, namely the control and treatment groups. With the number of treatments 15 treatments. Analysis of univariate and bivariate research with One Way ANOVA test followed by Bonferroni test.
Results: The results of the study that the average length of time (days) of organic waste composting with the addition of inoculants dose of 100 grams of tomato waste that is 32 days, a dose of 200 grams for 30 days, and a dose of 300 grams for 28 days. The addition of inoculant tomato waste with a dose of 300 grams is the most effective dose in the composting of organic waste (ρ = 0.000 <α = 0.05).
Suggestion: It is expected that the use of research in the tomato waste composting organic waste can be a solution, especially for people in overcoming the problem of garbage.

Keywords: Compost, Waste Tomato
Bibliography: 1999 – 2013




PENDAHULUAN
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sehingga timbulnya bahan buangan yang tidak dipakai maupun tidak diinginkan lagi yang sering disebut sampah. Sampah merupakan bahan padat buangan dari kegiatan rumah tangga, pasar, perkantoran, rumah penginapan, rumah makan, industri, atau aktifitas manusia lainnya (Pradieta, 2011).
Faktor yang mempengaruhinya timbunan sampah perkotaan di suatu Negara tidak terlepas dari tiga faktor yaitu : tingkat konsumsi, tingkat pendapatan, dan kepadatan penduduk di daerah perkotaan. Tingkat konsumsi masyarakat dianggap sangat mempengaruhi timbunan sampah pada suatu wilayah atau Negara. Pola hidup konsumtif yang digambarkan dalam tingginya tingkat konsumsi, mendorong orang tidak hanya memenuhi kebutuhan primer, namun juga mengejar kebutuhan sekunder maupun kebutuhan tersiernya. Hal ini pada akhirnya merubah jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan oleh individu setiap harinya. Dengan begitu, dapat kita pahami bahwa pada zaman yang modern ini, sampah yang dihasilkan semakin hari semakin bervariasi jenis dan bertambah jumlahnya (Wardani 2007).
Permasalahan ini semakin hari semakin bertambah. Meskipun kemajuan teknologi telah membawa perubahan terhadap kesejahteraan umat manusia, akan

tetapi perkembangan teknologi juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, yaitu berupa sampah. Sampah merupakan masalah nasional yang dialami oleh semua negara. karena banyaknya sumber produksi sampah dan beranekaragamnya jenis sampah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional pada tahun 2012 bahwa Setiap orang menghasilkan sampah organik secara langsung maupun tak langsung sekitar ½ kg setiap harinya. Pada tahun 2012 penduduk Indonesia sebanyak 257.516.167 jiwa, maka produksi sampah perhari sebanyak 128.758,083 ton/hari. Provinsi Bengkulu merupakan salah satu Provinsi di Indonesia dengan jumlah penduduk 1.715.518 jiwa, maka produksi sampah perhari sebanyak 857,759 ton/hari.
Ada beberapa cara pengolahan sampah organik dan anorganik  meliputi untuk sampah organik dengan cara pengumpulan, pengangkutan,  dan pemprosesan menjadi kompos, dan untuk sampah anorganik dengan cara pemilahan, pewadahan, pengumpulan,  pengangkutan, dan pendaur-ulangan menjadi bahan yang lebih berguna. Cara Pengolahan sampah di Kota Bengkulu sebagian dikelola oleh Dinas kebersihan dan Pertamanan Kota Bengkulu, selebihnya dikelola oleh masyarakat dengan cara ditimbun dan dibakar. Pada tahun 2012 penduduk Kota Bengkulu sebanyak 313.324 jiwa maka dapat menghasilkan  menghasilkan timbulan sampah sebanyak 156,662 m3/hari. Jumlah ini didapatkan dari jumlah penduduk dikalikan 0,5/1000 (m3/hari). Tingginya timbulan sampah di Kota Bengkulu dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat sehingga memerlukan alternatif untuk mengatasi masalah sampah tersebut, salah satunya dengan cara pengomposan (Dinas kebersihan dan Pertamanan Kota Bengkulu, 2012).
Pemanfaatan sampah dengan pengomposan merupakan cara dalam menangani sampah yang dihasilkan dari kegiatan masyarakat yang sebagian besar sampah organik. Kendala dan keluhan masyarakat dalam sistem proses pengomposan secara alami yang memerlukan waktu 2-3 bulan, sehingga masyarakat kurang menerima pengolahan sampah dengan cara pengomposan (Indriyani, 2011).
Pengomposan merupakan proses penguraian bahan-bahan organik secara biologis dalam temperatur thermophilik (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan-bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah yaitu dapat memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologis tanah. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan stuktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia (Alex, 2011).
Dampak buruk akibat sampah bagi kesehatan manusia karena tidak mendapatkan pengolahan sehingga akan menyebabkan berbagai penyakit seperti kecacingan, diare, dan gatal-gatal pada kulit. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif pemecah masalah dengan cara menemukan suatu bahan yang berfungsi sebagai biostarter dalam pengomposan sehingga dapat mempercepat waktu pengomposan.
Permasalahan lain yang sering dikeluhkan oleh pada petani adalah kelangkaan pupuk. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dan Peternakan Kota Bengkulu, diwakili Kasi Sarana dan Prasarana, Marwan mengatakan kelangkaan pupuk bersubsidi di Kota Bengkulu diakibatkan pengurangan jatah yang bersumber dari pemerintah pusat (KupasBengkulu.com).
Hasil survei pada tanggal 28 Februari 2014 di Pasar Minggu Kota Bengkulu menunjukan bahwa tomat yang telah cacat atau busuk di buang tanpa ada manfaatnya. Sehingga menghasilkan limbah tomat sebanyak 10 kg/hari. Banyaknya limbah tomat yang terbuang di tempat pengumpulan sampah dapat mengundang vektor penyakit sehingga dapat menimbulkan dampak negatif bagi pedagang dan masyarakat sekitar. Banyaknya limbah tomat di Pasar Minggu dapat dimanfaatkan sebagai komponen dalam pupuk yang mampu membantu petani dalam produksi pupuk.
Limbah tomat merupakan salah satu sampah organik yang dapat digunakan sebagai media biakan (inokulan) yang mengandung mikrobia yang mampu mendegradasi bahan-bahan organik. Limbah tomat yang terkontaminasi atau ditumbuhi mikrobia lactobacillus dapat digunakan sebagai biostarter dalam proses pengomposan (Sofyan, 2007).
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas inokulan limbah tomat sebagai biostarter terbentuknya kompos.

ALAT DAN BAHAN          
Timbangan, Derigen/botol plastik, Pisau, Kayu pengaduk, Tutup ember, Soil meter, Termometer, Blender dan polybag ukuran 2 kg, Pipa PVC, Alat tulis dan mesin pencacacah sampah.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tomat yang sudah busuk sebanyak 3 kg, sampah sisa sayuran sebanyak 32 kg, dan serbuk kayu sebanyak 4 kg. Inokulan limbah tomat dibuat dengan cara dihaluskan ke dalam blender sebanyak 3 kg. Sedangkan untuk pembuatan kompos semua bahan harus dirajang terlebih dahulu dengan ukuran 2-5 cm lalu kemudian dimasukkan dalam digester berupa polybeg dan ditambahkan inokulan limbah tomat dengan perlakuan 100 gram, 200 gram, dan 300 gram.
Analisis data dilakukan secara deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel dan analisis bivariat untuk melihat pengaruh yang paling efektif dalam proses pembentukkan kompos.

CARA KERJA
            Inokulan limbah tomat dibuat dengan cara dihaluskan ke dalam blender sebanyak 3 kg. Sedangkan untuk pembuatan kompos semua bahan harus dirajang terlebih dahulu dengan ukuran 2-5 cm lalu kemudian dimasukkan dalam digester berupa polybeg dan ditambahkan inokulan limbah tomat dengan perlakuan 100 gram, 200 gram, dan 300 gram.

HASIL
Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan menggambarkan distribusi rata-rata masing-masing variabel yang dianalisi secara statistik deskriptif (Mean dan standar deviasi), yang disajikan dalam bentuk tabel dan distribusi rata-rata untuk mengetahui proporsi masing-masing variabel.
Berdasarkan grafik 4.1 diperoleh hasil waktu pengomposan sampah organik sampai matang. Waktu yang paling efektif dalam terbentuknya kompos yaitu pada kelompok penambahan inokulan limbah tomat dengan dosis 300 gram yaitu selama 28 hari.
Grafik 4.1
Rata-rata Waktu Pengomposan Sampah Organik Pada kelomok Kontrol, dan Kelompok Perlakuan






Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan uji One Way Anova untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara masing-masing variabel bebas dan variabel terikat. Hasil uji dapat dilihat pada
Tabel 4.1
Hasil Uji One Way Anova Lama  Waktu (hari) Pengomposan Sampah Organik
Kelompok Perlakuan dan kontrol





Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh data bahwa rata-rata lama waktu terbentuknya kompos pada dosis 100 gram adalah 32,4 hari dengan standar deviasi 0,548. Pada dosis 200 gram adalah 30,4 hari dengan standar deviasi 0,548. Pada dosis 300 gram adalah 28 hari dengan standar deviasi 0,707.
Hasil uji statistik didapat nilai ρ= 0,000 < α (0,05), berarti dapat disimpulkan ada perbedaan lama waktu terbentuknya
kompos dengan penambahan inokulan limbah tomat dengan dosis 100 gram, 200 gram, dan 300 gram
Untuk mengetahui perbedaan lama waktu terbentuknya kompos dari ketiga perlakuan dengan menggunakan inokulan limbah tomat 100 gram, 200 gram, dan 300 gram dengan uji Bonferonni .
Tabel 4.2
Hasil Uji Bonferroni Perbedaan Lama Waktu (hari) Pengomposan Dengan
       Menggunakan Inokulan Limbah Tomat Dengan Variasi Dosis
100 gram, 200 gram,
 dan 300 gram.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa ada perbedaan rata-rata lama waktu terbentuknya kompos dengan penambahan inokulan limbah tomat dosis 100 gram, 200 gram, dan 300 gram. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa dosis penambahan inokulan limbah tomat yang paling efektif adalah dosis 300 gram. 
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dengan judul Efektivitas Inokulan Limbah Tomat Sebagai Biostarter Terbentuknya Kompos dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pengomposan dengan penambahan limbah tomat 100 gram membutuhkan lama waktu terbentuknya kompos rata-rata selama  32 hari.
2.      Pengomposan dengan penambahan limbah tomat 200 gram membutuhkan lama waktu terbentuknya kompos rata-rata selama  30 hari.
3.      Pengomposan dengan penambahan limbah tomat 300 gram membutuhkan lama waktu terbentuknya kompos rata-rata selama  28 hari.
4.      Penambahan inokulan limbah tomat sebanyak 300 gram lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan variasi dosis 100 gram, 200 gram, dan 300 gram dalam mempercepat waktu pengomposan sampah organik.

DAFTAR PUSTAKA
Alex, S. 2011. Sampah Organik Menjadi Pupuk Organik. Yogyakarta: Pustaka Baru Press .
Anom Wibisono HS. 1999. Faktor-faktor yang memepengaruhi proses pengomposan. Diakses dari  http://www.masagri.com/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses-pengomposan/
tanggal 14 Juli 2014.
BPS, 2012. Kependudukan Provinsi Bengkulu. Diakses dari  http://bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=1  tanggal 20 Februari 2014
Dinas Kebersihan dan Pertamanan Bengkulu, 2012. Pengolahan Sampah Kota : Bengkulu

Indriyani, H. Yovita. 2011. Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta : Penebar Swadaya.

Mualim, dkk. 2013. Buku Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes. Bengkulu : jurusan kesling.

Nuradyastuti. 2005. Pengaruh Penambahan Efektif Mikroorganisme (Em4) Degra Simba Dan Fix-Up Plus Terhadap Lama Waktu Pengomposan. Karya Tulis Ilmiah DIII Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Depkes RI, Yogyakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Pradieta. 2011. Pelestarian Lingkungan hidup. Diakses dari pradieta-pelestarianlingkunganhidup.blogspot.com/   tanggal 05 Maret 2014.

Prasojo, S. 2012. Memupuk Uang Dari Sampah. Jakarta: Bestari

Panjaitan, H. 2013. Efektifitas Mikroorganisme Lokal (Mol) Tape Sebagai Aktifator Pembuatan Kompos. Karya Tulis Ilmiah DIII Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes, Bengkulu.

Purwati, E. 2007. Budi Daya Tomat Dataran Rendah. Jakarta: Penebar Swadaya

Sanjaya. 2012. Pengaruh Penambahan Air Cucian Beras Dan Em4 Sebagai Biostater Terhadap Lama Waktu Terbentuknya Kompos Sampah Organik. Karya Tulis Ilmiah Poltekkes Kemenkes, Bengkulu.

Sofyan, dkk. 2007. Pemanfaatan Limbah Tomat Sebagai Pengganti EM4. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. Vol. 8, No. 2, 2007: 119 - 143. Surakarta.

Wahyono, Sri, et al. 2011. Membuat Pupuk Organik Granul dari Aneka Limbah. Jakarta Selatan : PT. Agromedia Pustaka

Wardhani, 2007. Sumber Sampah Dan Macam-Macam Jenis Sampah. Jakarta: Fitramaya

Warsidi, Edi. 2010. Mengolah Sampah Menjadi Kompos. Jakarta: Penebar Swadaya


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar