EFEKTIVITAS
INOKULAN LIMBAH TOMAT SEBAGAI BIOSTARTER
TERBENTUKNYA KOMPOS
Bayu
Saputra Ilahi, Haidina Ali, Gamaiwarivoni
Poltekkes
Kemenkes Bengkulu, Prodi D-III Kesehatan Lingkungan, Jl. Indragiri No. 03
Padang
Harapan Kota Bengkulu
ABSTRAK
Latar Belakang :
Pada tahun 2012 Kota Bengkulu menghasilkan
timbulan sampah sebanyak 156,662 m3/hari. Disisi lain terjadi
kelangkaan pupuk, sehingga masyarakat dirugikan karena menurunnya hasil
pertanian. Untuk itu dengan memanfaatkan limbah tomat, sampah organik dapat
dijadikan pupuk (kompos). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas
inokulan limbah tomat sebagai biostarter terhadap lama waktu terbentuknya
kompos.
Metode : Jenis penelitian
yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan “Posttest
Only Control Group Design”. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua
kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan. Dengan jumlah perlakuan 15
perlakuan. Analisis penelitian secara univariat dan bivariat dengan melakukan
uji One Way Anova dilanjutkan dengan
uji Bonferroni.
Hasil : Hasil penelitian
bahwa rata-rata lama waktu (hari) pembentukan kompos sampah organik dengan
penambahan inokulan limbah tomat dosis 100 gram yaitu 32 hari, dosis 200 gram
selama 30 hari, dan dosis 300 gram selama 28 hari. Penambahan inokulan limbah tomat dengan dosis 300 gram
merupakan dosis yang paling efektif dalam pembentukan kompos sampah organik (ρ=
0,000 < α= 0,05).
Saran : Diharapkan
penelitian penggunaan limbah tomat dalam pembuatan kompos sampah organik ini
dapat menjadi sebuah solusi khususnya bagi masyarakat dalam mengatasi masalah sampah.
Kata Kunci : Kompos, Limbah Tomat
Daftar Pustaka : 1999 - 2013
ABSTRACT
Background: In 2012
Bengkulu produce landfill waste as much as 156.662 m3 / day. On the other hand
there is a shortage of fertilizer, so that people disadvantaged because of
declining agricultural output. For that by utilizing waste tomatoes, organic
waste can be used as fertilizer (compost). The purpose of the study was to
determine the effectiveness of inoculant tomato waste as much time biostarter
the formation of compost.
Methods: This research
conducted an experimental study using the "Posttest Only Control Group
Design". This study was done using two groups, namely the control and
treatment groups. With the number of treatments 15 treatments. Analysis of
univariate and bivariate research with One Way ANOVA test followed by
Bonferroni test.
Results: The results of
the study that the average length of time (days) of organic waste composting
with the addition of inoculants dose of 100 grams of tomato waste that is 32
days, a dose of 200 grams for 30 days, and a dose of 300 grams for 28 days. The
addition of inoculant tomato waste with a dose of 300 grams is the most
effective dose in the composting of organic waste (ρ = 0.000 <α = 0.05).
Suggestion: It is expected
that the use of research in the tomato waste composting organic waste can be a
solution, especially for people in overcoming the problem of garbage.
Keywords:
Compost, Waste Tomato
Bibliography:
1999 – 2013
PENDAHULUAN
Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kehidupan
manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sehingga timbulnya bahan buangan
yang tidak dipakai maupun tidak diinginkan lagi yang sering disebut sampah.
Sampah merupakan bahan padat buangan dari kegiatan rumah tangga, pasar,
perkantoran, rumah penginapan, rumah makan, industri, atau aktifitas manusia
lainnya (Pradieta, 2011).
Faktor yang mempengaruhinya timbunan
sampah perkotaan di suatu Negara tidak terlepas dari tiga faktor yaitu :
tingkat konsumsi, tingkat pendapatan, dan kepadatan penduduk di daerah
perkotaan. Tingkat konsumsi masyarakat dianggap sangat mempengaruhi timbunan
sampah pada suatu wilayah atau Negara. Pola hidup konsumtif yang digambarkan
dalam tingginya tingkat konsumsi, mendorong orang tidak hanya memenuhi
kebutuhan primer, namun juga mengejar kebutuhan sekunder maupun kebutuhan
tersiernya. Hal ini pada akhirnya merubah jenis dan jumlah sampah yang
dihasilkan oleh individu setiap harinya. Dengan begitu, dapat kita pahami bahwa
pada zaman yang modern ini, sampah yang dihasilkan semakin hari semakin
bervariasi jenis dan bertambah jumlahnya (Wardani 2007).
Permasalahan ini semakin hari semakin
bertambah. Meskipun kemajuan teknologi telah membawa perubahan terhadap
kesejahteraan umat manusia, akan
tetapi
perkembangan teknologi juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan,
yaitu berupa sampah. Sampah merupakan masalah nasional yang
dialami oleh semua negara. karena banyaknya sumber produksi sampah dan
beranekaragamnya jenis sampah.
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik Nasional pada tahun 2012 bahwa Setiap orang
menghasilkan sampah organik secara langsung maupun tak langsung sekitar ½ kg
setiap harinya. Pada tahun 2012 penduduk Indonesia sebanyak 257.516.167
jiwa, maka produksi sampah perhari sebanyak 128.758,083
ton/hari. Provinsi Bengkulu merupakan salah satu Provinsi di
Indonesia dengan jumlah penduduk 1.715.518 jiwa, maka
produksi sampah perhari sebanyak 857,759 ton/hari.
Ada beberapa cara pengolahan sampah
organik dan anorganik meliputi untuk
sampah organik dengan cara pengumpulan, pengangkutan, dan pemprosesan menjadi kompos, dan untuk
sampah anorganik dengan cara pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, dan pendaur-ulangan menjadi
bahan yang lebih berguna. Cara Pengolahan
sampah di Kota Bengkulu sebagian dikelola oleh Dinas kebersihan dan Pertamanan
Kota Bengkulu, selebihnya dikelola oleh masyarakat dengan cara ditimbun dan
dibakar. Pada tahun 2012 penduduk Kota Bengkulu sebanyak 313.324 jiwa maka dapat menghasilkan menghasilkan timbulan sampah sebanyak 156,662 m3/hari. Jumlah ini didapatkan dari
jumlah penduduk dikalikan 0,5/1000 (m3/hari). Tingginya
timbulan sampah di Kota Bengkulu dapat menimbulkan dampak negatif bagi
masyarakat sehingga memerlukan alternatif untuk mengatasi masalah sampah
tersebut, salah satunya dengan cara pengomposan (Dinas kebersihan dan Pertamanan Kota Bengkulu, 2012).
Pemanfaatan sampah dengan pengomposan
merupakan cara dalam menangani sampah yang dihasilkan dari kegiatan masyarakat
yang sebagian besar sampah organik. Kendala dan keluhan masyarakat dalam sistem
proses pengomposan secara alami yang memerlukan waktu 2-3 bulan, sehingga
masyarakat kurang menerima pengolahan sampah dengan cara pengomposan
(Indriyani, 2011).
Pengomposan merupakan proses penguraian
bahan-bahan organik secara biologis dalam temperatur thermophilik (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan-bahan
yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah yaitu dapat memperbaiki sifat
kimia, fisik, dan biologis tanah. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan
sampah dapat digunakan untuk menguatkan stuktur lahan kritis, menggemburkan
kembali tanah pertanian, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia (Alex, 2011).
Dampak buruk akibat sampah bagi
kesehatan manusia karena tidak mendapatkan pengolahan sehingga akan menyebabkan
berbagai penyakit seperti kecacingan, diare, dan gatal-gatal pada kulit. Oleh
karena itu, perlu dicari alternatif pemecah masalah dengan cara menemukan suatu
bahan yang berfungsi sebagai biostarter dalam pengomposan sehingga dapat
mempercepat waktu pengomposan.
Permasalahan lain yang sering dikeluhkan oleh pada
petani adalah kelangkaan pupuk. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan,
dan Peternakan Kota Bengkulu, diwakili Kasi Sarana dan Prasarana, Marwan
mengatakan kelangkaan pupuk bersubsidi di Kota Bengkulu diakibatkan pengurangan
jatah yang bersumber dari pemerintah pusat (KupasBengkulu.com).
Hasil survei pada tanggal 28 Februari
2014 di Pasar Minggu Kota Bengkulu menunjukan bahwa tomat yang telah cacat atau
busuk di buang tanpa ada manfaatnya. Sehingga menghasilkan limbah tomat
sebanyak 10 kg/hari. Banyaknya limbah tomat yang terbuang di tempat pengumpulan
sampah dapat mengundang vektor penyakit sehingga dapat menimbulkan dampak
negatif bagi pedagang dan masyarakat sekitar. Banyaknya limbah tomat di Pasar
Minggu dapat dimanfaatkan sebagai komponen dalam pupuk yang mampu membantu
petani dalam produksi pupuk.
Limbah tomat merupakan salah satu sampah
organik yang dapat digunakan sebagai media biakan (inokulan) yang mengandung
mikrobia yang mampu mendegradasi bahan-bahan organik. Limbah
tomat yang terkontaminasi atau ditumbuhi mikrobia lactobacillus dapat digunakan sebagai biostarter dalam proses
pengomposan (Sofyan, 2007).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas
inokulan limbah tomat sebagai biostarter terbentuknya kompos.
ALAT
DAN BAHAN
Timbangan,
Derigen/botol plastik, Pisau, Kayu pengaduk, Tutup ember, Soil meter, Termometer, Blender dan polybag ukuran 2 kg, Pipa PVC, Alat
tulis dan mesin pencacacah sampah.
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari tomat yang sudah busuk sebanyak 3 kg, sampah sisa
sayuran sebanyak 32 kg, dan serbuk kayu sebanyak 4 kg. Inokulan limbah tomat
dibuat dengan cara dihaluskan ke dalam blender sebanyak 3 kg. Sedangkan untuk
pembuatan kompos semua bahan harus dirajang terlebih dahulu dengan ukuran 2-5
cm lalu kemudian dimasukkan dalam digester berupa polybeg dan ditambahkan
inokulan limbah tomat dengan perlakuan 100 gram, 200 gram, dan 300 gram.
Analisis data dilakukan secara
deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel dan analisis bivariat untuk
melihat pengaruh yang paling efektif dalam proses pembentukkan kompos.
CARA KERJA
Inokulan limbah
tomat dibuat dengan cara dihaluskan ke dalam blender sebanyak 3 kg. Sedangkan
untuk pembuatan kompos semua bahan harus dirajang terlebih dahulu dengan ukuran
2-5 cm lalu kemudian dimasukkan dalam digester berupa polybeg dan ditambahkan
inokulan limbah tomat dengan perlakuan 100 gram, 200 gram, dan 300 gram.
HASIL
Analisis Univariat
Analisis
univariat bertujuan menggambarkan distribusi rata-rata masing-masing variabel
yang dianalisi secara statistik deskriptif (Mean dan standar deviasi), yang
disajikan dalam bentuk tabel dan distribusi rata-rata untuk mengetahui proporsi
masing-masing variabel.
Berdasarkan grafik 4.1 diperoleh hasil waktu pengomposan sampah organik sampai matang. Waktu
yang paling efektif dalam terbentuknya kompos yaitu pada kelompok penambahan inokulan limbah tomat
dengan dosis 300 gram yaitu selama 28 hari.
Grafik 4.1
Rata-rata
Waktu Pengomposan Sampah Organik Pada kelomok Kontrol,
dan Kelompok
Perlakuan
Analisis
Bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan uji One
Way Anova untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara masing-masing
variabel bebas dan variabel terikat. Hasil uji dapat dilihat pada
Tabel 4.1
Hasil Uji
One Way Anova Lama Waktu (hari) Pengomposan Sampah Organik
Kelompok Perlakuan dan kontrol
Berdasarkan
tabel 4.1
diperoleh data bahwa rata-rata lama waktu terbentuknya kompos pada dosis 100 gram adalah 32,4 hari dengan standar deviasi 0,548. Pada dosis 200 gram adalah 30,4 hari dengan standar deviasi 0,548. Pada dosis 300 gram adalah 28 hari dengan standar deviasi 0,707.
Hasil
uji statistik didapat nilai ρ= 0,000 < α (0,05), berarti dapat disimpulkan ada perbedaan lama waktu terbentuknya
kompos
dengan penambahan inokulan limbah tomat dengan dosis 100 gram, 200
gram, dan 300 gram
Untuk mengetahui perbedaan lama waktu
terbentuknya kompos dari ketiga perlakuan dengan menggunakan inokulan limbah tomat
100 gram, 200 gram, dan 300 gram dengan uji Bonferonni .
Tabel 4.2
Hasil
Uji Bonferroni Perbedaan Lama Waktu (hari) Pengomposan Dengan
Menggunakan Inokulan Limbah
Tomat Dengan Variasi Dosis
100 gram,
200 gram,
dan 300 gram.
Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa ada
perbedaan rata-rata lama waktu terbentuknya kompos dengan penambahan inokulan limbah tomat dosis 100 gram, 200 gram,
dan 300 gram. Dari data
tersebut dapat disimpulkan bahwa dosis penambahan inokulan limbah tomat yang paling efektif adalah dosis 300 gram.
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian dengan judul Efektivitas Inokulan Limbah Tomat Sebagai
Biostarter Terbentuknya Kompos dapat disimpulkan bahwa :
1.
Pengomposan dengan
penambahan limbah tomat 100 gram membutuhkan lama waktu terbentuknya kompos
rata-rata selama 32 hari.
2.
Pengomposan dengan
penambahan limbah tomat 200 gram membutuhkan lama waktu terbentuknya kompos rata-rata
selama 30 hari.
3.
Pengomposan dengan
penambahan limbah tomat 300 gram membutuhkan lama waktu terbentuknya kompos rata-rata
selama 28 hari.
4.
Penambahan inokulan
limbah tomat sebanyak 300
gram lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan variasi
dosis 100 gram, 200 gram, dan 300 gram dalam mempercepat waktu pengomposan sampah organik.
DAFTAR PUSTAKA
Alex,
S. 2011. Sampah Organik Menjadi Pupuk
Organik. Yogyakarta: Pustaka Baru Press .
Anom Wibisono HS. 1999. Faktor-faktor yang memepengaruhi proses pengomposan. Diakses
dari http://www.masagri.com/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses-pengomposan/
tanggal 14 Juli
2014.
BPS,
2012. Kependudukan Provinsi Bengkulu. Diakses
dari http://bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=12¬ab=1 tanggal 20 Februari 2014
Dinas Kebersihan dan Pertamanan Bengkulu, 2012. Pengolahan Sampah Kota : Bengkulu
Indriyani,
H. Yovita. 2011. Membuat Kompos Secara
Kilat. Jakarta : Penebar Swadaya.
Mualim,
dkk. 2013. Buku Pedoman Penulisan Karya
Tulis Ilmiah Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes. Bengkulu :
jurusan kesling.
Nuradyastuti.
2005. Pengaruh Penambahan Efektif Mikroorganisme (Em4) Degra Simba Dan Fix-Up
Plus Terhadap Lama Waktu Pengomposan. Karya
Tulis Ilmiah DIII Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Depkes RI, Yogyakarta.
Notoatmodjo,
Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Pradieta.
2011. Pelestarian Lingkungan hidup.
Diakses dari pradieta-pelestarianlingkunganhidup.blogspot.com/
tanggal 05 Maret 2014.
Prasojo,
S. 2012. Memupuk Uang Dari Sampah.
Jakarta: Bestari
Panjaitan,
H. 2013. Efektifitas Mikroorganisme Lokal (Mol) Tape Sebagai Aktifator
Pembuatan Kompos. Karya Tulis Ilmiah DIII
Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes, Bengkulu.
Purwati,
E. 2007. Budi Daya Tomat Dataran Rendah. Jakarta:
Penebar Swadaya
Sanjaya.
2012. Pengaruh Penambahan Air Cucian Beras Dan Em4 Sebagai Biostater Terhadap
Lama Waktu Terbentuknya Kompos Sampah Organik. Karya Tulis Ilmiah Poltekkes
Kemenkes, Bengkulu.
Sofyan,
dkk. 2007. Pemanfaatan Limbah Tomat Sebagai Pengganti EM4. Jurnal Penelitian Sains dan
Teknologi. Vol. 8, No. 2,
2007: 119 - 143. Surakarta.
Wahyono,
Sri, et al. 2011. Membuat Pupuk Organik
Granul dari Aneka Limbah. Jakarta Selatan
: PT. Agromedia Pustaka
Wardhani,
2007. Sumber Sampah Dan Macam-Macam Jenis
Sampah. Jakarta: Fitramaya
Warsidi, Edi. 2010. Mengolah Sampah Menjadi
Kompos. Jakarta: Penebar Swadaya



Tidak ada komentar:
Posting Komentar