EFEKTIVITAS
BUBUK BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA LINNAEUS) SEBAGAI LARVASIDA AEDES SP INSTAR III
Dede Wahyu Hutari, Yusmidiarti , H. Mualim.
Politeknik
Kesehatan Bengkulu, Prodi-DIII Kesehatan Lingkungan, Jl. Indragiri No.3 Padang
Harapan Kota Bengkulu
ABSTRAK
Kasus
DBD dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, sehingga perlu dilakukannya
pengendalian kasus DBD, salah satu cara penegendalian DBD membunuh larva nyamuk
dengan menggunakan cara abatisasi. Penggunaan abate mempunyai kelemahan yang
bisa berpengaruh terhadap pengguna abate dan terjadinya resistensi pada nyamuk
Aedes sp. Biji pepaya sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai pembasmi jentik
nyamuk Aedes sp karena memiliki racun yang terkandung dalam biji pepaya adalah
saponin. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas bubuk biji
pepaya sebagai larvasida Aedes sp.
Jenis
penelitian ini adalah True Eksperimen dengan desain penelitian Posttest Only
Control Group Design, menggunakan 4 perlakuan (10 ml, 20 ml, 30 ml, dan 40 ml)
dan 1 kontrol. Objek yang digunakan sebanyak 300 Larva Aedes sp yang telah
mencapai instar III. Bubuk biji pepaya di ekstraksi dengan cara metode maserasi
Masing-masing perlakuan berisi 20 larva dan dilakukan pengulangan sebanyak 3
kali. Data dianalisis secara univariat dan bivariat.
Hasil Analisis univariat
jumlah larva yang mati pada bebagai dosis yang mati pada total persentase
terendah 35 % pada dosis 10 ml dan persentase tertinggi 100 % pada dosis 40 ml.
Hasil uji analisis bivariat one way anova adanya jumlah perbedaan jumlah larva
yang mati, dengan didapatkan nilai sig. = 0,000, sehingga ρ < α (0,05)
artinya ada pengaruh yang signifikan terhadap perbedaan dosis larutan bubuk
biji pepaya yang dipakai terhadap kematian larva Aedes sp. Hasil analisis
Bonferroni menunjukan dosis 40 ml efektif sebagai larvasida Aedes sp instar
III. Pengendalian larva Aedes sp dengan menggunakan larutan bubuk biji pepaya
dapat dilakukan dengan cara memasukkan larutan bubuk biji pepaya sebanyak 40 ml
setiap 1 liter air selama 24 jam pemaparan.
Kata Kunci : larvasida biji pepaya, saponin, dan larva Aedes
sp
Pendahuluan
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue, ditularkan ke tubuh manusia
melalui gigitan nyamuk Aedes sp yang terinfeksi dan karenanya dianggap
sebagai arbovirus (virus yang
ditularkan melalui arthropoda). Bila terinfeksi, nyamuk tetap akan terinfeksi
sepanjang hidupnya. Nyamuk jantan akan menyimpan virus pada nyamuk betina saat
melakukan kontak seksual selanjutnya, nyamuk betina tersebut akan menularkan
virus ke manusia melalui gigitan (WHO, 1999).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat Indonesia yang cenderung semakin luas penyebarannya
sejalan dengan peningkatan arus transportasi dan kepadatan penduduk. Penyakit
ini terutama menyerang anak-anak, dapat menimbulkan kematian dan sering
menimbulkan wabah (Kementerian Kesehatan RI, 2007).
Deman Berdarah Dengue (DBD) Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan
persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD. Berdasarkan
situasi tersebut WHO menetapkan Indonesia sebagai salah satu negara
hiperendemik dengan jumlah provinsi yang terkena DBD sebanyak 32 dari 33
provinsi di Indonesia (Achmadi, 2010).
Profil kesehatan Indonesia mencatat data tentang penyakit DBD tahun 2008
yaitu 137.469 kasus dan 1.187 diantaranya meninggal dunia, tahun 2009 yaitu
158.912 kasus dan 1.420 diantaranya meninggal dunia, tahun 2010 yaitu 156.085
kasus dan 1.358 diantanya meninggal dunia, dan
tahun 2011 yaitu 65.432 kasus dan tahun 2012 yaitu 595 diantaranya
meninggal dunia. Berdasarkan informasi di atas maka didapatkan penurunan jumlah
kasus 99,7 % antara jumlah kasus DBD di
Indonesia dengan jumlah kasus di Provinsi Bengkulu. (Kementerian Kesehatan
Indonesia, 2008-2012).
Kasus penderita (DBD) di Provinsi Bengkulu tahun 2012 juga
tercatat sebanyak 409 kasus yang terjangkit dan menyebar di 67 Kelurahan
Provinsi Bengkulu dan meninggal dunia 2 orang. Kasus tersebut meningkat dari
tahun 2011 yang hanya 300 kasus. Berdasarkan informasi di atas maka didapatkan
penurunan jumlah kasus 47,77 % antara jumlah kasus DBD di Provinsi Bengkulu
dengan Kota Bengkulu. (Dinkes Provinsi Bengkulu, 2012).
Dinas Kesehatan Kota Bengkulu mencatat
jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) Sejak tahun ke tahun mengalami
peningkatan jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2012
mencapai 470 orang jauh lebih meningkat dibandingkan periode yang sebelumya.
Warga kota Bengkulu yang terjangkit penyakit demam berdarah dengue hingga akhir
Februari 2012 tercatat 102 orang dan 2 orang diantaranya meninggal dunia
(Dinkes Kota Bengkulu, 2012)
Melihat cara
pengendalian secara kimiawi dengan sasaran nyamuk atau larva kemungkinan ada
dampak negatif yang ditimbulkan yaitu terjadi resistensi Aedes sp yang
diakibatkan dari penggunaan cara pengendalian secara kimiawi. Bentuk
pengendalian lain dapat dilakukan secara mekanik, biologi, kimia, atau
perubahan sifat genetik. Digunakannya insektisida karena bekerja lebih efektif
dan hasilnya cepat terlihat. Namun hal ini mempunyai dampak negatif antara lain
pencemaran lingkungan, kematian predator, resistensi serangga sasaran, dapat
membunuh hewan peiiharaan, bahkan mengganggu kesehatan manusia. Sejauh ini
langkah yang telah dilakukan masyarakat adalah abatisasi. Abatisasi dilakukan
untuk mengendalikan larva nyamuk dan dosis yang dipakai cenderung lebih rendah
dengan alasan air yang ditaburi abate berbau kurang sedap, karena ini memang
adalah salah satu kelemahan formulasi temefos SG. Lebih tingginya frekuensi
abatisasi ini dapat mendorong terjadinya resistensi pada populasi Aedes sp. Selain itu, pemakaian abate
selama 30 tahun memang memungkinkan berkembangnya resistensi (Mulla, 2004).
Melihat berbagai alasan tersebut maka perlu dilakukan suatu usaha mendapatkan
insektisida alternatif yaitu menggunakan insektisida alami, yakni insektisida
yang dihasilkan oleh tanaman beracun terhadap serangga tetapi tidak mempunyai
efek samping terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia.
Metode yang
paling efektif untuk mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah adalah dengan
cara membunuh jentik-jentiknya (Nurhasanah, 2001). Larvasida yang merupakan
salah satu insektisida dapat menjadi alternatif pengendalian demam berdarah.
Larvasida alami dapat ditemukan dalam tumbuhan yang didalamnya terkandung
senyawa yang berfungsi sebagai larvasida, diantaranya adalah golongan sianida,
saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, steroid dan minyak atsiri (Kardinan,
2000). Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai larvasida adalah
pepaya. Biji pepaya merupakan bagian yang mengandung senyawa kimia golongan
alkaloid, saponin, flavonoid.
Berdasarkan
uraian di atas peneliti ingin mencoba menggunakan biji pepaya sebagai larvasida
alami dan mengetahui daya bunuh ekstrak biji pepaya terhadap larva nyamuk Aedes
sp dalam berbagai dosis Penggunaan biji pepaya diharapkan mampu menjadi
alternatif larvasida alami yang aman dan mampu membunuh larva Aedes sp sebagai
upaya mengurangi tingginya angka penyakit DBD di Indonesia.
Metode Penelitian
2.1 Alat
Mortal
dan pastel, ovitrap, kain kasa, gelas
aqua, baskom, nampan, labu ukur, water
bath, counter.
2.2 Bahan
Ekstrak
biji pepaya,
larva aedes sp instar III, , alkohol
96%.
2.3 Cara Kerja
Proses kolonisasi larva dilakukan dengan dua cara yaitu
dengan menggunakan ovitrap yang diletakkan didekat tempat-tempat perindukan
nyamuk dan juga dengan cara pencidukan larva pada
tempat-tempat perindukkan
nyamuk.. Setelah telur berubah menjadi larva
maka larva diberi makan pelet ikan yang telah dihaluskan sebagai makanan bagi
larva agar larva tetap hidup. Larva yang
digunakan sebagai penelitian adalah larva instar ke III.
Proses pembuatan ekstrak biji pepaya mendapatkan hasil
ekstraksi yang baik, maka biji pepaya dikering anginkan terlebih dahulu selama
5 hari dengan suhu 25°C/suhu kamar sehingga
kadar air yang ada di dalam biji pepaya berkurang. Setelah proses
pengeringan selesai kemudian tumbuhan biji pepaya dihaluskan yang bertujuan
untuk memperluas permukaan sel buah pare terhadap cairan alkohol sehingga zat
aktif yang terdapat didalam buah pare
akan lebih mudah untuk diekstraksi. Biji pepaya yang telah halus kemudian
ditimbang sebanyak 100 gr untuk konsentrasi 1%, dengan penggunaan 4 dosis
(10ml. 20ml,
30ml. 40ml) pada neraca analitik dengan menggunakan
kaca arloji kemudian memasukkan kedalam labu ukur 100 ml lalu direndam dengan pelarut
alkohol selama 3 hari dan setiap harinya dilakukan penghomogenan. Kemudian hasil
perendaman disaring, setelah itu hasil
penyaringan dipanaskan dengan menggunakan water
bath hingga mencapai titik didih alkohol dengan suhu 80°C, agar alkohol dapat menguap
dan didapatkan ekstrak biji
pepaya kental. Setelah melakukan pemanasan volume
ekstrak biji
pepaya akan berkurang maka dilakukan
penambahan aquadest hingga tanda
tera.
Mempersiapkan 5 buah nampan yang masing-masing nampan diisi
dengan air sebanyak 1 liter. Kemudian memasukkan ekstrak biji pepaya dengan dosis
10 ml ke baskom pertama, dosis 20 ml baskom kedua, dosis 30 ml baskom ketiga, dosis
40 ml baskom keempat, dan nampan 5 tidak menambahan zat apapun sebagai kontrol.
Kemudian memasukkan larva kedalam masing-masing nampan sebanyak 20 ekor. Tunggu
dan amati perkembangan larva selama 1 jam pertama , 2 jam kedua, 3 jam ketiga dan
24
jam lalu hitung larva yang mati dengan menggunakan counter. Pengulangan
dalam proses penelitian dilakukan sebanyak 3 kali. Hasil yang telah didapat
dimasukkan ke dalam tabel pengamatan
dan dianalisis dengan menggunakan uji One Way Anova.
Hasil
3.1
Analisis
Univariat
Penelitian yang di lakukan pada tanggal 24 April s.d 24 Mei
2014 di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Bengkulu menghasilkan data
jumlah larva yang mati pada penambahan ekstrak biji pepaya dengan berbagai
variasi dosis yang disajikan secara deskriptif dan analitik.
Tabel
1
Jumlah
Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi Dosis
Ekstrak Biji Pepaya Pemaparan
24 jam
Tabel
1 menunjukkan bahwa dari 3 kali pengulangan dengan total jumlah larva Aedes
sp sebanyak 60 ekor setelah
dilakukan kontak selama 24 jam kematian larva tertinggi (100%) terjadi pada
perlakuan ekstrak biji pepaya dosis 40ml..
3.2
Analisis
Bivariat
Uji One Way Anova ini digunakan untuk
menguji sebuah rancangan variabel lebih dari satu, uji ini digunakan untuk
mengetahui apakah ada perbedaan jumlah larva yang mati pada penambahan eksrtak
biji pepaya
dengan berbagai variasi dosis.
Tabel
2
Hasil
Uji One Way Anova Jumlah Larva yang Mati
Pada Penambahan Ekstrak Biji pepaya dengan
Berbagai Variasi dosis
Pada
tabel 2 hasil uji One Way Anova didapat nilai ρ = 0,000 < 0,05 dapat diartikan bahwa secara statistik Ho
ditolak dan Ha diterima, disimpulkan bahwa ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan
ekstrak biji pepaya dengan dosis (10ml, 20ml, 30ml, 40ml).
Selanjutnya
untuk mengetahui rata-rata beda jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak buah pare dengan
berbagai variasi dosis
serta kontrol, dilakukan uji bonferroni. Hasil uji bonferroni
dapat dilihat pada tabel 3:
Tabel
3
Hasil
Uji Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk Aedes sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak
Biji Pepaya
Dengan Berbagai Variasi Dosis
Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa selisih jumlah rata-rata
beda larva nyamuk Aedes sp yang mati
antara kontrol dan perlakuan ekstrak 10 ml adalah 7,000 ekor. Selisih rata-rata
antara kontrol dan perlakuan ekstrak dengan dosis 20 ml adalah 11,000 ekor.
Selisih rata-rata antara kontrol dan ekstrak dengan dosis 30 ml adalah 16,667
ekor. Selisih rata-rata antara kontrol dan ekstrak dengan dosis 40 ml adalah
20,000 ekor.
Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 10
ml dan ekstrak dengan dosis 20 ml adalah 4,000 ekor. Selisih rata-rata antara
perlakuan ekstrak dengan dosis 10 ml dan ekstrak dengan dosis 30 ml adalah
9,667 ekor. Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 10 ml dan
ekstrak dengan dosis 40 ml adalah 13,000 ekor. Selisih rata-rata antara
perlakuan ekstrak dengan dosis 20 ml dan ekstrak dengan dosis 30 ml adalah
5,667 ekor. Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 20 ml dan
ekstrak dengan dosis 40 ml adalah 9,000 ekor. Selisih rata-rata antara
perlakuan ekstrak dengan dosis 30 ml dan ekstrak dengan dosis 40 ml adalah
3,333.
Hasil uji Bonferroni menunjukkan
bahwa selisih rata-rata yang bermakna dengan p value = 0,000 terhadap jumlah
larva nyamuk Aedes sp yang mati
penambahan ekstrak biji pepaya pada berbagai variasi dosis (10 ml, 20 ml, 30
ml, 40 ml) dan kontrol, dan diantara keempat perlakuan yang paling berpengaruh
adalah perlakuan dengan penambahan ekstrak bubuk biji dengan dosis 40 ml.
Pembahasan
Berdasarkan tabel 1 Berdasarkan
hasil analisis univariat
menunjukkan bahwa ekstrak biji pepaya memiliki pengaruh
sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp.
Dari masing-masing variasi dosis ekstrak biji pepaya (Carica Papaya Linnaeus) memiliki tingkat daya bunuh lava Aedes sp yang berbeda-beda. Ini dapat
dilihat dari rata-rata persentase kematian larva Aedes sp pada dosis 10 ml dapat membunuh larva Aedes sp sebesar 35%, pada dosis 20 ml dapat membunuh larva Aedes sp sebesar 55% , pada dosis 30 ml,
dapat membunuh larva sebesar 83,3% dan pada dosis 40 ml dapat membunuh larva Aedes sp sebesar 100%. Hal ini terjadi
karena semakin besar dosis yang digunakan maka kandungan zat toksik saponin
yang terdapat di dalam ekstrak biji pepaya dapat semakin efektif untuk membunuh
larva Aedes sp, jadi diperoleh dosis
40 ml yang paling efektif sebagai larvasida dengan kandungan saponin yang
terbesar 0,04 %.
Hasil analisis bivariat pada tabel 2 yaitu uji One Way Anova
diketahui bahwa ekstrak biji pepaya (Carica papaya Linnaeus) mempunyai
kemampuan untuk mematikan larva Aedes sp.
Ini dapat dilihat dari nilai p value < 0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha
diterima. Hal ini sesuai dengan kemampuan biji pepaya dalam membunuh larva
nyamuk Aedes sp di karenakan adannya
kandungan saponin dalam biji pepaya. Saponin adalah jenis glikosida yang banyak
ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga
ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat
bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan saponin memiliki rasa pahit
menusuk dan menyebabkan iritasi pada selaput lendir. Saponin merupakan racun
yang dapat menghancurkan butir darah atau hemolisis pada darah
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap obyek penelitian dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji pepaya
dengan dosis 10 ml adalah 7 ekor, dosis 20 ml adalah 11 ekor, dosis 30 ml
adalah 16,66, dosis 40ml adalah 20 ekor.
2. Perbedaan jumlah larva Aedes sp
yang mati pada penambahan bebagai macam dosis ekstrak biji pepaya pada dosis 10
ml dengan 20 ml adalah 4 ekor, pada dosis 10 ml dengan 30 ekor adalah 8 ekor,
pada dosis 10 ml dengan 40 ml adalah 13, pada dosis 20 ml dengan 30 ml adalah 5
ekor, pada dosis 20 ml dengan 40 ml adalah 9 ekor, pada dosis 30 ml dengan 40
ml adalah 4 ekor.
3. Dosis yang paling efektif untuk membunuh larva Aedes sp adalah dosis 40 ml dengan persentase kematian larva Aedes sp 100 %.
Saran
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah di lakukan adapun saran yang dapat diberikan adalah
sebagai berikut:
1. Bidang Akademik
Pendidikan
Diharapkan
penelitian ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan yaitu dapat menambah khasanah
ilmu pengetahuan kesehatan lingkungan khususnya penyakit demam berdarah dengue
(DBD).
2.Manfaat
Bagi Peneliti Lain
Diharapkan
penelitian ini
dapat memberikan informasi mengenai larvasida biji pepaya
sehingga diharapkan dapat melanjutkan penelitian dengan menggunakan larutan
tumbuhan yang berkualitas.
3.Bagi
Masyarakat
Diharapkan
penelitian ini dapat memberikan informasi tentang alternatif pembasmi larva
nyamuk, memberikan informasi tentang salah satu solusi pencegahan penyakit
demam berdarah (DBD), Memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai potensi
bahan alami sebagai larvasida.
DAFTAR
PUSTAKA
Achmadi, 2010,
Demam Berdarah Dengue (DBD) Di
Indonesia. Diakses Dari http//google.com/Demam Berdarah Dengue Di Indonesia
Jurnal.
Arikunto,
2010, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta : Jakarta Depkes RI, 2007,
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD),
Indonesia : Depkes RI 2007.
Depkes RI,
2002, Penularan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Depkes RI, 2002.
Dinas Kesehatan, 2008-2012, Profil
Kesehatan Indonesia 2008- 2012. Indonesia : Profil Kesehatan Indonesia.
Dinkes Kota
Bengkulu, 2012, Jumlah Penderita Demam
Berdarah Dengue (DBD), Dinkes Kota
Bengkulu.
Dinkes Provinsi Bengkulu, 2012, Kasus Penderita Demam Berdarah Dengue
(DBD), Dinkes Provinsi Bengkulu.
Ivan V, 2006, Perbandingan Efektivitas Abate Dengan Papain Dalam Menghambat Pertumbuhan Larva Aedes spp.
Ginanjar, 2008, Apa yang dokter
anda tidak katakan tentang demam berdarah, PT. Mizan Publika, Bandung.
Kardinan, 2000,
Larvasida Alami,
Diakses Dari
http//google.com.
Kementerian
Kesehatan RI, 2007,
Penyakit Demam
Berdarah Dengue
(DBD).
Kementerian
Kesehatan RI, 2005, Morfologi dan lingkungan hidup nyamuk, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian
Kesehatan RI, 2002, Perantara Penularan DBD. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Moehd. Baga Kalie, 1996, Bertanam
Tanaman Pepaya Edisi Revisi, Penebar Swadaya : Jakarta.
Mulla, 2004, Demam
Berdarah Dengue (DBD) Jurnal, Diakses Dari http//google.com.
Noraida,
2000, Formula Abbot Corrections, Bandung : ITB.
Notoatmojo,
2010, Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta..
Nurhasanah, 2001, Demam
Berdarah Dengue (DBD) Jurnal, Diakses Dari http//google.com.
Dinas Kesehatan, 2008-2012, Profil
Kesehatan Indonesia 2008- 2012. Indonesia : Profil Kesehatan Indonesia.
Simanjuntak, 2005, Senyawa Kimia Sintetis, Diakses Dari http://repository.usu.ac.id/bitstream//Chapter
II. pdf.
Soegijanto,
2006 , Pengendalian
Vektor Secara Mekanik Dan Pengelolaan
Lingkungan, Diakses Dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/Chapter II. pdf.
Soroso, 2000,
Penularan Demam Berdarah Dengue (DBD),
Diakses Dari http://repository.usu.ac.id/bitstream//Chapter II.pdf.
Sudrajat dkk, 2009, Masalah Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD), Diakses Dari
http//google/com.
, SB, 2008,
Perantara Penularan Demam Berdarah Dengue
(DBD), Diakses Dari http//google.com.
Tjitrosoepomo, Gembong, 2012, Morfologi
Tumbuhan, Yogjakarta, UGM Press.
Wahyuni, 2005, Senyawa Kimia Non
Nabati, Diakses Dari http://repository.usu.ac.id/bitstream//Chapter II. Pdf.
WHO, 2004, Siklus
Hidup Nyamuk Aedes Aegypti, WHO.
, 1999, Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Disebabkan Oleh Virus Dengue. WHO.
_________, !997, Pengendalian nyamuk yang paling
efektif, WHO
Yoyon Maryono, 2013, Pengaruh
Penambahan Berbagai
Dosis Ekstrak Pepaya (CaricaPapaya Linnaeus)
Terhadap Kematian Larva Aedes sp
Yunida, 2009, Penyebab Virus
Dengue, Diakses Dari www.adulgopar.files, wordpress.com 6 oktober 2011.



Apakah ini penelitian pribadi anda??
BalasHapusapakah penelitian ini dilakukan secara mekanis
BalasHapus