Senin, 18 Agustus 2014

EKSTRAK BIJI MAHONI

UJI EFEKTIVITAS BIJI MAHONI (Swietenia mahagoni Jacq) SEBAGAI LARVASIDA TERHADAP KEMATIAN  LARVA AEDES SP
Dea Oktaviani,  Deri Kermelita, Sri Mulyati.
Politeknik Kesehatan Bengkulu, Prodi-DIII Kesehatan Lingkungan, Jl. Indragiri No.3 
Padang Harapan Kota Bengkulu

ABSTRAK
Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) adalah tanaman yang tumbuh liar di hutan jati dan tumbuh subur dipasir payau yang dekat dengan pantai. Zat toksik yang terkandung dalam biji mahoni adalah alkaloid, saponin dan flavonoida yang berguna sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Aedes sp. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) sebagai larvasida terhadap larva aedes sp.
Jenis penelitian Eksperimen dengan desain penelitian Post test Only Control Group Design. Obyek penelitian yang digunakan sebanyak 240 Larva Aedes sp yang telah mencapai instar III, Masing-masing perlakuan berisi 20 larva dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali, 1%, 0,5%, 0,1% dan 0,01%. Data diperoleh dari pengamatan jumlah kematian Larva Aedes sp selama 24 jam perlakuan.
Hasil uji statistik dengan  one way anova didapatkan nilai sig. = 0,000 artinya ada pengaruh yang signifikan terhadap perbedaan konsentrasi ekstrak biji mahoni yang dipakai terhadap kematian larva Aedes sp. Selanjutnya dilakukan uji post hoc untuk mengetahui perbedaan rata-rata setiap kelompok perlakuan dengan menggunakan Analisis Multiple Comparisons, Bonferroni didapatkan sig. = 0,00 berarti ada perbedaan yang signifikan dalam mematikan larva Aedes sp diantara ke empat konsentrasi yang diberikan. Pengendalian larva Aedes sp dengan menggunakan ekstrak biji mahoni dapat dilakukan dengan cara memasukkan cairan ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 1% setiap 1 liter air selama 24 jam pemaparan.
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber bacaan dan referensi sebagai pengendalian vektor nyamuk DBD.


Kata Kunci : larvasida, ektrak biji mahoni, alkaloid, saponin, flavonoida
Daftar pustaka : 2004-2013


ABSTRACT
Mahogany (Swietenia mahogany Jacq) is a plant that grows wild in the forests of teak and brackish in the sand thrives close to the beach. The toxic substances contained in mahogany are alkaloid, saponin and flavonoida which can be useful as larvasida to mosquito larva, Aedes sp. The objective of this research is to know the effect of bitter mahogany seeds extract (Swietenia mahagoni Jacq) as larvasida to aedes sp larva.
This research is Experimental with the design of the research is Post Test Only Control Group Design. The objects used in this study are 240 Aedes sp larvas which have already reached phase III. Each treatment contains 30 larvas and the treatment is done three times in the consecration 1%, 0,5%, 0,1% and 0,01%. The data are obtained from the observations of Aedes sp larva’s death in 24 hours treatment.
The obtained result of the statistic with one way anova shows that the sig. value is =0,000, which means that there is a significant effect toward the different extract bitter squash concentration that is used in the Aedes sp larva’s death. Furthermore, the post hoc test is proceeded to know the average difference in each treatment group by using multiple comparison, bonferroni analysis, and the obtained sig. value is 0,00,  which means there is significance difference in deadening Aedes sp larva among for concentrations given. The retrain Aedes sp larva by using bitter squash extract can be done by adding the liquid bitter squash extract with the concentration 1% in 1 litter water for 24 hour.
This study can be used as reading source and reference to control dengue mosquito vector.
Key terms: larvasida, mahogany seeds extract, saponin, saponin
Reference: 2004-2013                   



Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan suatu penyakit epidemik akut yang disebabkan oleh virus yang ditransmisikan oleh Aedes aegypti  dan Aedes albopictus. Penderita yang terinfeksi akan memiliki gejala berupa demam ringan sampai tinggi, disertai dengan sakit kepala, nyeri pada mata, otot dan persendian, hingga perdarahan spontan       (WHO, 2010).
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh Virus dengue, Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak dapat menular melalui udara, cairan tubuh, makanan, maupun minuman. Hal ini karena virus dengue tidak mampu bertahan hidup jika berada di luar sel atau jaringan yang hidup. Virus dengue hidup dan menular dengan bantuan nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus, atau Aedes polynesiensis. Dari ketiga jenis nyamuk ini, Aedes aegypti merupakan host (tempat hidup) dan vektor utama virus dengue sebagai vektor penyakit, nyamuk Aedes sp hidup di genangan air bersih atau pakaian yang tergantung dibalik pintu kamar atau tirai dan tempat yang gelap atau kotor (Ginanjar, 2008).
Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari, gigitan nyamuk itu sendiri lebih dari satu kali. Demam berdarah hanya ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti (betina) yang berkembang biak di dalam air jernih di sekitar rumah, bukan di got/comberan yang berair kotor. Protein yang terkandung di dalam darah diperlukan oleh nyamuk betina untuk perkembangbiakan (produksi) telurnya. Nyamuk betina akan mencari tempat seperti genangan air atau daun pepohonan yang lembab. Nyamuk betina meletakan telurnya didinding tempat penampuangan air atau barang-barang yang memungkinkan tergenang di bawah permukaan air (Purnama, 2010).
Insidensi demam berdarah dengue meningkat secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa dekade ini. Diperkirakan, saat ini di seluruh dunia sekitar 2,5 milyar orang memiliki resiko terkena demam dengue. Mereka terutama tinggal di daerah perkotaan negara-negara tropis dan subtropis. Diperkirakan saat ini sekitar 50 juta kasus demam dengue ditemukan setiap tahun, dengan 500.000 kasus memerlukan penanganan di Rumah Sakit. Dari kasus di atas, sekitar 25.000 jumlah kematian terjadi setiap tahunnya (WHO, 2010).
Profil kesehatan Indonesia mencatat data tentang penyakit DBD tahun 2008 yaitu 137.469 kasus dan 1.187 diantaranya meninggal dunia, pada tahun 2009 kasus DBD yaitu 158.912 kasus dan 1.420 diantaranya meninggal dunia, sehingga kasus DBD pada tahun 2008 dan 2009 mengalami peningkatan sebesar 7,23%.  Pada tahun 2010 kasus DBD yaitu 156.085 kasus dan 1.358 diantanya meninggal dunia, sehingga dari kasus DBD tahun 2009 dan 2010 mengalami penurunan sebesar 0, 89%.  Pada tahun 2011 yaitu 65.432 kasus dan 595 diantaranya meninggal dunia, sehingga kasus DBD pada tahun 2010 dan 2011 mengalami penurunan sebesar 40,92%. Pada tahun 2012 terdapat 90.245 kasus DBD dengan jumlah kematian 816 orang, sehingga dari kasus DBD tahun 2011 dan 2012 mengalami kenaikan sebesar 15,93%. (Kementrian  Kesehatan Republik Indonesia, 2008-2012).
Provinsi Bengkulu kasus DBD dari tahun ketahun selalu mengalami peningkatan, pada tahun 2008 terdapat 385 kasus, tahun 2009 terdapat 426 kasus, sehingga kenaikan kasus yang terjadi pada tahun 2008 dan 2009 sebesar 5,05%. Pada tahun 2010 terdapat 620 kasus, sehingga kenaikan kasus yang terjadi pada tahun 2009 dan 2010 sebesar 18,54%. Pada tahun 2011 terdapat 747 kasus, sehingga kenaikan kasus yang terjadi dari tahun 2010 dan tahun 2011 sebesar 9,29%. Pada tahun 2012  terdapat 881 kasus dengan jumlah kematian 11 orang, sehingga kenaikan kasus DBD yang terjadi pada tahun 2011 dan 2012 adalah sebesar 15,93%. (Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu, 2008-2012). Maka dapat disimpulkan bahwa penyakit DBD di Provinsi Bengkulu merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat Provinsi Bengkulu, sehingga perlu dilakukannya pengendalian yang baik dan tepat agar kasus DBD dapat dihentikan.
Usaha pencegahan penyakit yang ditularkan oleh Aedes sp. telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan (fogging) menggunakan pestisida berbahan aktif malathion untuk membunuh nyamuk Aedes sp. dewasa, serta menaburkan serbuk abate suatu pestisida berbahan aktif temephos untuk membunuh jentik nyamuk di tempat berkembangnya (Soegijanto, 2004).
Metode yang paling efektif untuk mengendalikan vektor nyamuk demam berdarah adalah membunuh jentik yang biasa hidup di bak air atau tempat-tempat yang sering digunakan untuk menampung air. Saat ini masyarakat melakukan pemberantasan secara kimiawi yaitu dengan cara pemberian larvasida kimiawi seperti temefos (abate). Abate yang ditaburkan pada tempat penampungan air akan menempel pada dinding-dinding penampungan air dan dapat bertahan selama 2-3 bulan. Abate tidak dianjurkan untuk digunakan pada tempat penampungan air minum. Karena apabila terlalu banyak terkonsumsi abate maka akan menimbulkan sesak nafas, atau pedih pada mata. Selain daripada itu, pemberantasan melalui zat kimia bisa mengakibatkan resistensi terhadap keturunan akibat seleksi genetika (Kardinan, 2007).
Pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan insektisida yang alami dan ramah lingkungan, yaitu biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) yang terkenal pengobatan tradisional yang sifat pahit, dingin, antipiretik (penurun panas), anti jamur dan menurunkan tekanan darah tinggi. Pengaruh dari biji mahoni adalah menghambat kemampuan makan larva (antifedant). Akibat dari senyawa alkaloid, saponin, dan flavonoid dari biji mahoni sebagai racun perut terhadap larva Aedes sp. Apabila senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh larva maka alat pencernaanya akan terganggu. Selain itu, senyawa tersebut juga menghambat reseptor perasa pada mulut larva yang menyebabkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanan. Juga menghambat kerja hormon pada larva yaitu hormon otak, hormon edikson, dan hormon pertumbuhan. Fungsi lain dari senyawa tersebut yaitu menghambat fungsi saraf, enzim kolinesterase sehingga akan terjadi gangguan transmisi rangsang yang menyebabkan menurunya koordinasi otot, konvulsi, dan kematian pada larva (Kristanto, 2005).
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) sebagai larvasida untuk larva Aedes sp (instar III).

Bahan Dan Cara Kerja
Mortal dan pastel, ovitrap, kain kasa, gelas aqua, baskom, nampan, labu ukur, water bath, counter. Ekstrak biji mahoni, larva aedes sp instar III, pelet ikan, alkohol 96%.
Proses kolonisasi larva dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan ovitrap yang diletakkan didekat tempat-tempat perindukan nyamuk dan juga dengan cara menangkap telur pada tempat-tempat penampunan air bersih.
Sebelum proses ekstraksi dilakukan, biji mahoni dipisahkan terlebih dahulu dari tanaman buah mahoni, Setelah proses pemisahan selesai kemudian biji mahoni dihaluskan terlebih dahulu dengan tujuan untuk memperluas permukaan sel terhadap cairan alkohol sehingga zat aktif  yang terdapat di dalam biji mahoni akan lebih mudah untuk diekstraksi. Biji mahoni yang telah halus kemudian direndam dengan pelarut alkohol selama 3 hari dengan ketentuan setiap 24 jam pelarut dihomogenkan/diaduk, kemudian hasil perendaman disaring. Setelah itu hasil penyaringan dipanaskan hingga mencapai titik didih alkohol agar alkohol dapat menguap dan didapatkan ekstrak biji mahoni.
       Selama proses pembuatan ekstrak dilakukan maka proses kolonisasi jentik nyamuk Aedes sp juga dilakukan. Telur nyamuk didapat dengan menggunakan perangkap yaitu ovitrap yang diletakkan didekat tempat-tempat perindukan nyamuk. Dan juga dengan cara melekatkan kertas saring pada tempat-tempat penampungan air, tetapi hasil dari penangkapan telur nyamuk pada perangkap ovitrap tidak mencukupi jumlah yang diperlukan untuk penelitian maka dari itu dibuat alternatif bak penampung besar disekitar perindukan nyamuk.. Kemudian telur yang diperoleh direndam hingga telur berubah menjadi larva ± 2 hari. Setelah telur berubah menjadi larva maka larva diberi makan pelet ikan yang telah dihaluskan sebagai makanan bagi larva. Larva yang digunakan sebagai penelitian adalah larva instar ke III dan instar ke IV.
       Setelah ekstrak biji mahoni telah selesai dan larva sudah didapat kemudian siapkan 5 buah nampan yang masing-masing nampan diisi dengan air sebanyak 1 liter. Kemudian masukkan larva aedes sp kedalam nampan masing-masing 20 ekor larva. Kemudian memasukkan ekstrak kental biji mahoni ke dalam nampan dengan berbagai variasi konsentrasi. Nampan 1 dengan konsentrasi 1%, nampan 2 dengan konsentrasi 0,5%, nampan 3 dengan konsentrasi 0,1%, nampan 4 dengan konsentrasi 0,01%, dan nampan 5 tanpa penambahan zat apapun sebagai kontrol. Kemudian tunggu dan amati perkembangan larva selama 1 jam, 2 jam dan ke 24 jam lalu hitung larva yang mati dengan menggunakan counter.
      
Hasil
Analisis Univariat
Hasil penelitian yang dilakukan pada 29 April s.d 29 Mei 2013 di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Bengkulu menghasilkan data jumlah larva yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan berbagai variasi konsentrasi yang disajikan secara deskriptif dan analitik.
Tabel 4.1
Jumlah Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Ekstrak Biji Mahoni Pemaparan 24 jam

Kontrol
1%
0,5%
0,1%
0,01%
Pengulangan
Σ larva mati (ekor)
Σ larva mati (ekor)
Σ larva mati (ekor)
Σ larva mati (ekor)
Σ larva mati (ekor)
1
0
20
16
14
8
2
0
20
18
14
9
3
0
20
16
13
7
Total
0
60
50
41
24
Rata-rata
0
20
16,67
13,67
8
Persentase %
0%
100%
83,35%
68,35%
40%
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 3 kali pengulangan dengan total jumlah larva  Aedes sp sebanyak 60 ekor setelah dilakukan kontak selama 24  jam kematian larva tertinggi (100%) terjadi pada perlakuan ekstrak biji mahoni konsentrasi 1%.

Analisis Bivariat
Uji One Way Anova ini digunakan untuk menguji sebuah rancangan variabel lebih dari satu, uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan jumlah larva yang mati pada penambahan eksrtak biji mahoni dengan berbagai variasi konsentrasi.
Tabel 4.2
Hasil Uji One Way Anova Jumlah Larva yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Biji Mahoni dengan Berbagai Variasi Konsentrasi
Variabel
Mean
SD
95% Cl
ρ value
Kontrol
0.00
0.000
0.00


0,000
1%
20.00
0000
20-20
0,5%
16.67
1.155
13.80-19.54
0,1%
13.67
0.577
12.23-15.10
0,01%
8.00
1.000
5.52-10.48
Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh data bahwa rata-rata kematian larva aedes dengan konsentrasi 1% adalah 20 ekor dengan standar deviasi 0. Pada kematian larva aedes dengan konsentrasi 0,5% adalah 17 ekor dengan standar deviasi 1,155. Pada kematian larva aedes dengan konsentrasi 0,1% adalah 14 ekor dengan standar variasi 0,577. Pada kematian larva aedes dengan konsentrasi 0,01 % adalah 8 ekor dengan standar variasi 1.
Hasil uji statistik didapat nilai p=0,0000, berarti pada alpa 5% dapat disimpulkan ada perbedaan kematian larva aedes pada konsentrasi 1%, 0,5%, 0,1%, dan 0,01%. Analisis lebih lanjut membuktikan bahwa kelompok yang berbeda signifikan adalah konsentarsi 1%  dengan konsentarsi 0,1%, konsentrasi 1% dengan konsentrasi 0,01%, kensentrasi 0,5% dengan konsentrasi 0,1%, kensentrasi 0,5% dengan konsentrasi 0,01%  dan konsentrasi 0,1% dengan konsentrasi 0,01%.
Tabel 4.3
Hasil Uji Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk Aedes sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Biji Mahoni Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi
Perlakuan

Rata-rata beda (ekor)
ρ value
kontrol
1%
-20.000
0.000
0,5%
-17.667
0.000
0,1%
-13.667
0.000
0,01%
-8.000
0.000
1%
0,5%
3.333
0.002
0,1%
6.333
0.000

0,01%
12.000
0.000
0,5%
0,1%
3.000
0.003
0,01%
8.667
0.005
0,1%
0,01%
5.677
0.000
Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa ada perbedaan rata-rata konsentrasi biji mahoni 1%, 0,5%, 0,1%, dan 0,01% . Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa konsentrasi biji mahoni yang paling efektif adalah konsentrasi 1%.
Pembahasan
Berdasarkan Uji hasil analisis univariat pada tabel 4.3 variasi konsentrasi ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) memiliki tingkat keefektifan yang berbeda-beda. Hasil rata-rata persentase kematian larva Aedes sp tiap variasi konsentrasi (1%, 0,5%, 0,1%, 0,01%). Hasil rata-rata jumlah larva yang mati dalam berbagai konsentrasi yang dilakukan secara 3 kali pengulangan yaitu pada konsentrasi ekstark biji mahoni 1% didapatkan jumlah larva yang mati 20 ekor, pada ekstrak biji mahoni konsentrasi 0,5% didapatkan larva yang mati 16,67 ekor, pada ekstrak biji mahoni konsentrasi 0,1% didapatkan larva yang mati 13,67 ekor dan pada ekstrak biji mahoni konsentrasi 0,01% didapatkan larva yang mati 8 ekor. Hal ini membuktikan bahwa keefektifan konsentrasi terletak di konsentrasi biji mahoni 1% terbukti setelah dilakukan 3 kali pengulangan larva nyamuk yang mati 20 ekor atau persentase 100% ini di karenakan sesuai dengan peran ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) tersebut yang mengandung senyawa alkaloid, saponin, dan flavonoid yang dimana apabila senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh larva maka alat pencernaa larva akan terganggu. Selain itu juga, dapat menghambat reseptor perasa pada mulut larva yang menyebabkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanan. Juga menghambat kerja hormon pada larva yaitu hormon otak, hormon edikson, dan hormon pertumbuhan. Serta fungsi lainnya yaitu menghambat fungsi saraf, enzim kolinesterase sehingga akan terjadi gangguan transmisi rangsang yang menyebabkan menurunya koordinasi otot, konvulsi, dan kematian pada larva.
Hasil analisis bivariat pada tabel 4.2 yaitu uji One Way Anova diketahui bahwa ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) mempunyai kemampuan untuk mematikan larva Aedes sp. Perbedaan rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 1% adalah 20, rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 0,5% adalah 16,67, rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 0,1% adalah 13,67, sedangkan rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 0,01% adalah 8. Selanjutnya, untuk mengetahui perbedaan efektivitas konsentrasi biji mahoni terhadap kematian larva Aedes sp, dilakukan uji bonferroni sehingga diperoleh hasil bahwa ekstrak biji mahoni dan konsentrasi 1% efektif terhadap kematian larva Aedes, dengan nilai ρ value < 0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.
Penelitian ini menggunakan 4 variasi konsentrasi ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Variasi konsentrasi tersebut digunakan sebagai pembanding pada masing-masing perlakuan dan kontrol  sebagai penentu  apakah kinerja penelitian yang dilakukan sudah benar dan sebagai penentu keefektivitasan dari ke empat variasi konsentrasi yang telah digunakan.
Lama perkembangbiakan larva dipengaruhi oleh suhu, ketersediaan makanan, dan kepadatan larva pada tempat perindukan. Suhu ruangan tempat dilakukannya penelitian telah diukur dan berkisar antara 26-28oC, ini berarti suhu pada saat penelitian memenuhi syarat dimana suhu optimal untuk perkembangabiakan larva yaitu pada rentang suhu 25-30oC. Suhu merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses penelitian, karena jika kurang dari 10oC atau lebih 40oC maka perkembangan telur larva aedes sp akan terhenti dan mati. Larva akan mati apalagi kedinginan atau kepanasan Pengukuran pH air tempat perindukan menggunakan kertas lakmus didapatkan pH air 7, sedangkan pH optimal yang diperlukan untuk perkembangan larva ialah 6,8-8,5, berarti pH air memenuhi syarat pH optimal untuk perkambangan larva.
Hal yang utama dalam menekan populasi larva adalah menggunakan berbagai larvasida, baik secara biologis maupun kimiawi. Larvasida yang biasa digunakan biasanya terbatas pada wadah yang dipertahankan atau digunakan di rumah tangga dan tidak  dapat dibuang, seperti wadah penyimpanan air, kolam, vas bunga, dan sebagainya (Ginanjar, 2007). Larvasida kimiawi yang telah digunakan dimasyarakat indonesia ialah abate yang masuk dalam program kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 
Abate merupakan nama dagang dari temephosdengan formulasi granules, yaitu insektisida golongan organofosfat, terutama digunakan untuk pengendalian larva A. aegypti ditempat penampungan air , dengan konsentrasi 1 ppm atau 10 g untuk tiap 100 liter air dan mempunyai efek residu selama 3 bulan (Sutanto,  2008). Penggunaannya pada tempat penampungan air minum telah dinyatakan aman oleh World Health Organization (WHO) dan Departemen Kesehatan RI. Walaupun demikian, abate adalah larvasida yang mengandung zat aktif suatu organofosfat (temephos), umumnya unsur fosfat sangat berbahaya bagi manusia (Achmadi, 2008). Temephos mengandung senyawa beracun, hal ini disebabkan oleh toksisitas tinggi dari xylene, yaitu salah satu komponen yang ditemukan dalam produk abate. Ciri khas insektisida orpganofosfat yang lain adalah temephos menghambat aksi dari kelompok enzim yang disebut cholinesterase. Jenis spesifik enzim ini ditemukan di seluruh tubuh termasuk sistem saraf, otak, dan aliran darah. Gejala pemaparan akut juga mencakup mual, sakit kepala, kehilangan koordinasi otot, dan kesulitan bernapas. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu usaha untuk mendapatkan insektisida alternatif yaitu menggunakan insektisida alami, yaitu insektisida yang dihasilkan oleh tanaman beracun terhadap serangga, tetapi tidak mempunyai efek samping terhadap lingkungan serta manusia.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nana Setiani di Universitas Gadja Mada pada tahun 2010 memaparkan Uji Larvasida Infus Biji Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti. Dalam melakukan penelitiannya, Nana Setiani menggunakan metode infus dan menunjukkan bahwa ekstrak biji mahoni mempunyai kemampuan dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti dengan konsentrasi 10% ekstrak biji mahoni membunuh 100% larva dalam waktu 24 jam.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan terhadap sampel dapat di ambil kesimpulan yaitu jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 1% adalah 20 ekor, jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 0,5% adalah 17, jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 0,1% adalah 14 ekor, jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 0,01% adalah 8 ekor, dan efektivitas konsentrasi biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Aedes sp terdapat pada konsentrasi 1% serta ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan berbagai variasi konsentrasi dengan selisih beda nilai ρ value <0,05. Dari 20 larva sebagai obyek penelitian dengan 3 kali pengulangan kosentrasi 1% dapat membunuh larva sebanyak 60 ekor (100%), konsentrasi 0,5% dapat membunuh larva sebanyak 50 ekor (83%), konsentrasi 0,1% dapat membunuh larva sebanyak 41 ekor (68%), dan konsentrasi 0,01% dapat membunuh larva sebanyak 24 ekor (40).
Daftar Rujukan
Achmadi. 2008. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta: Rajawali Pers.

Depkes RI. 2004. Buletin Harian Perilaku dan Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti Sangat Penting    Diketahui dalam Melakukan Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk Termasuk Pemantauan Jentik Berkala. Ditjen P2M & PL. Jakarta.
_________. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Ditjen PP & PL. Jakarta.
Dinkes Kota Bengkulu. 2011. Profil Kesehatan Kota Bengkulu 2010.
__________________. 2012. Profil Kesehatan Kota Bengkulu 2011.
__________________. 2013. Profil Kesehatan Kota Bengkulu 2012.
Dinkes Provinsi Bengkulu. 2010. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu 2010.
_____________________. 2011. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu 2011.
_____________________. 2012. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu 2012.
Dirjen PP dan PL. 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Dwi, A. 2010. Daya Bunuh Ekstrak Biji Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.)terhadap Nyamuk Aedes aegypti.
Ginanjar. 2008. Demam Berdarah a survival quide Cet. 1. Yogyakarta. B First (PT
Benteng Pustaka).
Hadi. 1997. Berbagai Cara Pemberantasan Larva. Jurnal: Cermin Dunia Kedokteran.
 Herms, W. 2006. Medical Entomology. The Macmillan Company, United States of America.
Kardinan. 2007. Potensi Salasih Sebagai Repellent Terhadap Nyamuk Aedes aegypti, Jurnal Littri Vol. 13, No. 2, Juni 2007 : 39-42.

Kementrian Kesehatan RI. 2010. Demam Berdarah Dengue. Buletin Jendela Epidemiologi. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.
_______________________. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012, Jakarta.
Kristanto, H. 2005. Tumbuhan obat dan khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya
Lenny. 2006. Senyawa Flavonoid, Fenilpropanoida dan Alkaloida. Medan :
                                               Fak. MIPA. USU.
Notoatmodjo. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Purnama, S. 2010. Pengendalian Vektor DBD. Semarang
Sembel. 2009. Entomologi Kedokteran. Yogyakarta: C.V. Andi Offset.
Setiana, N. 2010. Uji Larvasida Infus Biji Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti.
Soedarto. 2009. Penyakit Menular di Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Soegijanto, S. 2006. Epidemilogi Demam Berdarah Dengue, dalam Demam Berdarah Dengue Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press. Hal 1-10.
Sudrajat. 2009. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung : CV. Pustaka Setia.
Sutanto et al,  2008. Parasitologi Kedokteran. Jakarta : FKUI
WHO. 2010. Dengue: Guidlines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New Edition. Geneva: World Health Organization.
Yatim, F. 2007. Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya Jilid 2. Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Zulkoni, A. 2011. Parasitologi: Yokyakarta: Maha medika.