UJI
EFEKTIVITAS BIJI MAHONI (Swietenia
mahagoni Jacq) SEBAGAI LARVASIDA TERHADAP KEMATIAN LARVA AEDES
SP
Dea Oktaviani, Deri Kermelita,
Sri Mulyati.
Politeknik Kesehatan
Bengkulu, Prodi-DIII Kesehatan Lingkungan, Jl. Indragiri No.3
Padang Harapan
Kota Bengkulu
ABSTRAK
Mahoni (Swietenia
mahagoni Jacq) adalah tanaman yang tumbuh liar di hutan
jati dan tumbuh subur dipasir payau yang dekat dengan pantai. Zat toksik yang terkandung dalam biji mahoni adalah alkaloid, saponin dan flavonoida yang berguna sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Aedes sp. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas
ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) sebagai
larvasida terhadap larva aedes sp.
Jenis penelitian Eksperimen dengan desain penelitian Post test Only Control Group Design. Obyek penelitian yang
digunakan sebanyak 240 Larva Aedes sp yang telah mencapai instar III,
Masing-masing perlakuan berisi 20 larva dan dilakukan pengulangan sebanyak 3
kali, 1%, 0,5%, 0,1% dan 0,01%. Data diperoleh dari pengamatan jumlah kematian
Larva Aedes sp selama 24 jam perlakuan.
Hasil uji statistik dengan one way
anova didapatkan nilai sig. = 0,000 artinya ada pengaruh yang signifikan
terhadap perbedaan konsentrasi ekstrak biji mahoni yang dipakai terhadap
kematian larva Aedes sp. Selanjutnya
dilakukan uji post hoc untuk mengetahui perbedaan rata-rata setiap kelompok
perlakuan dengan menggunakan Analisis Multiple Comparisons, Bonferroni didapatkan sig. = 0,00
berarti ada perbedaan yang signifikan dalam mematikan larva Aedes sp diantara ke empat konsentrasi
yang diberikan. Pengendalian larva Aedes sp dengan menggunakan ekstrak biji
mahoni dapat dilakukan dengan cara memasukkan cairan ekstrak biji mahoni dengan
konsentrasi 1% setiap 1 liter air selama 24 jam pemaparan.
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai
sumber bacaan dan referensi sebagai pengendalian vektor nyamuk DBD.
Kata
Kunci : larvasida, ektrak biji mahoni, alkaloid,
saponin, flavonoida
Daftar pustaka : 2004-2013
ABSTRACT
Mahogany (Swietenia mahogany
Jacq) is a plant that
grows wild in the forests of teak and
brackish in the sand thrives close to the beach. The toxic
substances contained in mahogany are alkaloid, saponin and flavonoida which can be useful as larvasida to mosquito larva, Aedes sp. The objective of this research
is to know the effect of bitter mahogany
seeds
extract (Swietenia mahagoni Jacq) as larvasida to aedes sp larva.
This
research is Experimental with the
design of the research is Post Test Only
Control Group Design. The objects used in this study are 240 Aedes sp
larvas which have already reached phase III. Each treatment contains 30 larvas
and the treatment is done three times in the consecration 1%, 0,5%, 0,1% and 0,01%. The data are obtained from the observations of Aedes sp larva’s death in 24 hours treatment.
The
obtained result of the statistic with one
way anova shows that the sig. value is =0,000, which means that there is a
significant effect toward the different extract bitter squash concentration
that is used in the Aedes sp larva’s
death. Furthermore, the post hoc test
is proceeded to know the average difference in each treatment group by using multiple comparison, bonferroni analysis,
and the obtained sig. value is 0,00,
which means there is significance difference in deadening Aedes sp larva among for concentrations
given. The retrain Aedes sp larva by
using bitter squash extract can be done by adding the liquid bitter squash
extract with the concentration 1% in 1 litter water
for 24 hour.
This study can be used as
reading source and reference to control dengue mosquito vector.
Key terms: larvasida, mahogany seeds extract, saponin, saponin
Reference: 2004-2013
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan suatu penyakit
epidemik akut yang disebabkan oleh virus yang ditransmisikan oleh Aedes
aegypti dan Aedes albopictus.
Penderita yang terinfeksi akan memiliki gejala berupa demam ringan sampai
tinggi, disertai dengan sakit kepala, nyeri pada mata, otot dan persendian,
hingga perdarahan spontan
(WHO, 2010).
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh Virus dengue,
Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak
dapat menular melalui udara, cairan tubuh, makanan, maupun minuman. Hal ini
karena virus dengue tidak mampu bertahan hidup jika berada di luar sel
atau jaringan yang hidup. Virus dengue hidup dan menular dengan bantuan
nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus, atau Aedes
polynesiensis. Dari ketiga jenis nyamuk ini, Aedes aegypti merupakan
host (tempat hidup) dan vektor utama virus dengue sebagai vektor
penyakit, nyamuk Aedes sp hidup di
genangan air bersih atau pakaian yang tergantung dibalik pintu kamar atau tirai
dan tempat yang gelap atau kotor (Ginanjar, 2008).
Nyamuk ini adalah nyamuk
rumah yang menggigit pada siang hari, gigitan nyamuk itu sendiri lebih dari
satu kali. Demam berdarah hanya ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti (betina) yang berkembang
biak di dalam air jernih di sekitar rumah, bukan di got/comberan yang berair
kotor. Protein yang terkandung di dalam darah diperlukan oleh
nyamuk betina untuk perkembangbiakan (produksi) telurnya. Nyamuk betina akan mencari tempat seperti genangan air
atau daun pepohonan yang lembab. Nyamuk betina meletakan telurnya didinding
tempat penampuangan air atau barang-barang yang memungkinkan tergenang di bawah
permukaan air (Purnama, 2010).
Insidensi demam berdarah
dengue meningkat secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa dekade ini.
Diperkirakan, saat ini di seluruh dunia sekitar 2,5 milyar orang memiliki
resiko terkena demam dengue. Mereka terutama tinggal di daerah perkotaan
negara-negara tropis dan subtropis. Diperkirakan saat ini sekitar 50 juta kasus
demam dengue ditemukan setiap tahun, dengan 500.000 kasus memerlukan penanganan
di Rumah Sakit. Dari kasus di atas, sekitar 25.000 jumlah kematian terjadi
setiap tahunnya (WHO, 2010).
Profil kesehatan
Indonesia mencatat data tentang penyakit DBD tahun 2008 yaitu 137.469 kasus dan
1.187 diantaranya meninggal dunia, pada tahun 2009 kasus DBD yaitu 158.912
kasus dan 1.420 diantaranya meninggal dunia, sehingga kasus DBD pada tahun 2008
dan 2009 mengalami peningkatan sebesar 7,23%.
Pada tahun 2010 kasus DBD yaitu 156.085 kasus dan 1.358 diantanya
meninggal dunia, sehingga dari kasus DBD tahun 2009 dan 2010 mengalami
penurunan sebesar 0, 89%. Pada tahun
2011 yaitu 65.432 kasus dan 595 diantaranya meninggal dunia, sehingga kasus DBD
pada tahun 2010 dan 2011 mengalami penurunan sebesar 40,92%. Pada tahun 2012
terdapat 90.245 kasus DBD dengan jumlah kematian 816 orang, sehingga dari kasus
DBD tahun 2011 dan 2012 mengalami kenaikan sebesar 15,93%. (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2008-2012).
Provinsi Bengkulu
kasus DBD dari tahun ketahun selalu mengalami peningkatan, pada tahun 2008
terdapat 385 kasus, tahun 2009 terdapat 426 kasus, sehingga kenaikan kasus yang
terjadi pada tahun 2008 dan 2009 sebesar 5,05%. Pada tahun 2010 terdapat 620
kasus, sehingga kenaikan kasus yang terjadi pada tahun 2009 dan 2010 sebesar 18,54%.
Pada tahun 2011 terdapat 747 kasus, sehingga kenaikan kasus yang terjadi dari
tahun 2010 dan tahun 2011 sebesar 9,29%. Pada tahun 2012 terdapat 881 kasus dengan jumlah kematian 11
orang, sehingga kenaikan kasus DBD yang terjadi pada tahun 2011 dan 2012 adalah
sebesar 15,93%. (Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu, 2008-2012). Maka dapat
disimpulkan bahwa penyakit DBD di Provinsi Bengkulu merupakan ancaman besar
bagi kesehatan masyarakat Provinsi Bengkulu, sehingga perlu dilakukannya
pengendalian yang baik dan tepat agar kasus DBD dapat dihentikan.
Usaha pencegahan penyakit yang ditularkan oleh Aedes
sp. telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan (fogging) menggunakan
pestisida berbahan aktif malathion untuk membunuh nyamuk Aedes sp. dewasa,
serta menaburkan serbuk abate suatu pestisida berbahan aktif temephos untuk
membunuh jentik nyamuk di tempat berkembangnya (Soegijanto, 2004).
Metode yang paling
efektif untuk mengendalikan vektor nyamuk demam berdarah adalah membunuh jentik
yang biasa hidup di bak air atau tempat-tempat yang sering digunakan untuk
menampung air. Saat ini masyarakat melakukan pemberantasan secara kimiawi yaitu
dengan cara pemberian larvasida kimiawi seperti temefos (abate). Abate yang ditaburkan pada tempat penampungan air
akan menempel pada dinding-dinding penampungan air dan dapat bertahan selama
2-3 bulan. Abate tidak dianjurkan untuk digunakan pada tempat penampungan air
minum. Karena apabila terlalu banyak terkonsumsi abate maka akan menimbulkan
sesak nafas, atau pedih pada mata. Selain daripada itu, pemberantasan melalui
zat kimia bisa mengakibatkan resistensi terhadap keturunan akibat seleksi
genetika (Kardinan, 2007).
Pengendalian
vektor Demam Berdarah Dengue (DBD)
dengan insektisida yang alami dan ramah lingkungan, yaitu biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) yang terkenal pengobatan tradisional yang sifat pahit, dingin, antipiretik (penurun
panas), anti jamur dan menurunkan tekanan darah tinggi. Pengaruh dari biji mahoni adalah menghambat
kemampuan makan larva (antifedant).
Akibat dari senyawa alkaloid, saponin, dan flavonoid dari biji mahoni sebagai racun perut terhadap larva Aedes
sp. Apabila senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh larva
maka alat pencernaanya akan terganggu. Selain itu, senyawa tersebut juga
menghambat reseptor perasa pada mulut larva yang menyebabkan larva gagal
mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanan. Juga menghambat kerja hormon pada larva yaitu hormon otak,
hormon edikson, dan hormon pertumbuhan. Fungsi lain dari senyawa tersebut yaitu
menghambat fungsi saraf, enzim kolinesterase
sehingga akan terjadi gangguan transmisi rangsang yang menyebabkan menurunya koordinasi otot, konvulsi,
dan kematian pada larva (Kristanto, 2005).
Tujuan
Penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) sebagai larvasida untuk larva Aedes sp (instar III).
Bahan Dan Cara Kerja
Mortal dan
pastel, ovitrap, kain kasa, gelas
aqua, baskom, nampan, labu ukur, water
bath, counter. Ekstrak biji mahoni, larva aedes sp instar III, pelet ikan, alkohol
96%.
Proses kolonisasi larva dilakukan
dengan dua cara yaitu dengan menggunakan ovitrap yang diletakkan didekat tempat-tempat
perindukan nyamuk dan juga dengan cara menangkap telur pada tempat-tempat
penampunan air bersih.
Sebelum
proses ekstraksi dilakukan, biji mahoni dipisahkan terlebih dahulu dari tanaman
buah mahoni, Setelah proses pemisahan selesai kemudian biji mahoni dihaluskan
terlebih dahulu dengan tujuan untuk memperluas permukaan sel terhadap cairan
alkohol sehingga zat aktif yang terdapat
di dalam biji mahoni akan lebih mudah untuk diekstraksi. Biji mahoni yang telah
halus kemudian direndam dengan pelarut alkohol selama 3 hari dengan ketentuan
setiap 24 jam pelarut dihomogenkan/diaduk, kemudian hasil perendaman disaring.
Setelah itu hasil penyaringan dipanaskan hingga mencapai titik didih alkohol
agar alkohol dapat menguap dan didapatkan ekstrak biji mahoni.
Selama proses pembuatan ekstrak
dilakukan maka proses kolonisasi jentik nyamuk Aedes sp juga dilakukan. Telur
nyamuk didapat dengan menggunakan perangkap yaitu ovitrap yang diletakkan
didekat tempat-tempat perindukan nyamuk. Dan juga dengan cara melekatkan kertas
saring pada tempat-tempat penampungan air, tetapi hasil dari penangkapan telur
nyamuk pada perangkap ovitrap tidak mencukupi jumlah yang diperlukan untuk
penelitian maka dari itu dibuat alternatif bak penampung besar disekitar
perindukan nyamuk.. Kemudian telur yang diperoleh direndam hingga telur berubah
menjadi larva ± 2 hari. Setelah telur berubah menjadi larva maka larva diberi
makan pelet ikan yang telah dihaluskan sebagai makanan bagi larva. Larva yang
digunakan sebagai penelitian adalah larva instar ke III dan instar ke IV.
Setelah ekstrak biji mahoni telah
selesai dan larva sudah didapat kemudian siapkan 5 buah nampan yang
masing-masing nampan diisi dengan air sebanyak 1 liter. Kemudian masukkan larva
aedes sp kedalam nampan masing-masing
20 ekor larva. Kemudian memasukkan ekstrak kental biji mahoni ke dalam nampan
dengan berbagai variasi konsentrasi. Nampan 1 dengan konsentrasi 1%, nampan 2
dengan konsentrasi 0,5%, nampan 3 dengan konsentrasi 0,1%, nampan 4 dengan
konsentrasi 0,01%, dan nampan 5 tanpa penambahan zat apapun sebagai kontrol.
Kemudian tunggu dan amati perkembangan larva selama 1 jam, 2 jam dan ke 24 jam
lalu hitung larva yang mati dengan menggunakan counter.
Hasil
Analisis Univariat
Hasil penelitian yang
dilakukan pada 29 April s.d 29 Mei 2013 di Laboratorium Terpadu Poltekkes
Kemenkes Bengkulu menghasilkan data jumlah larva yang mati pada penambahan
ekstrak biji mahoni dengan berbagai variasi konsentrasi yang disajikan secara
deskriptif dan analitik.
Tabel 4.1
Jumlah Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Ekstrak
Biji Mahoni Pemaparan 24 jam
Kontrol
|
1%
|
0,5%
|
0,1%
|
0,01%
|
|
Pengulangan
|
Σ larva
mati (ekor)
|
Σ larva
mati (ekor)
|
Σ larva
mati (ekor)
|
Σ larva
mati (ekor)
|
Σ larva
mati (ekor)
|
1
|
0
|
20
|
16
|
14
|
8
|
2
|
0
|
20
|
18
|
14
|
9
|
3
|
0
|
20
|
16
|
13
|
7
|
Total
|
0
|
60
|
50
|
41
|
24
|
Rata-rata
|
0
|
20
|
16,67
|
13,67
|
8
|
Persentase
%
|
0%
|
100%
|
83,35%
|
68,35%
|
40%
|
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 3 kali pengulangan dengan total
jumlah larva Aedes sp sebanyak 60 ekor
setelah dilakukan kontak selama 24 jam
kematian larva tertinggi (100%) terjadi pada perlakuan ekstrak biji mahoni
konsentrasi 1%.
Analisis Bivariat
Uji One Way Anova
ini digunakan untuk menguji sebuah rancangan variabel lebih dari satu, uji ini
digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan jumlah larva yang mati pada
penambahan eksrtak biji mahoni dengan berbagai variasi konsentrasi.
Tabel 4.2
Hasil Uji One Way Anova Jumlah Larva yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Biji
Mahoni dengan Berbagai Variasi Konsentrasi
Variabel
|
Mean
|
SD
|
95% Cl
|
ρ value
|
Kontrol
|
0.00
|
0.000
|
0.00
|
0,000
|
1%
|
20.00
|
0000
|
20-20
|
|
0,5%
|
16.67
|
1.155
|
13.80-19.54
|
|
0,1%
|
13.67
|
0.577
|
12.23-15.10
|
|
0,01%
|
8.00
|
1.000
|
5.52-10.48
|
Berdasarkan
tabel 4.2 diperoleh data bahwa rata-rata kematian larva aedes dengan
konsentrasi 1% adalah 20 ekor dengan standar deviasi 0. Pada kematian larva
aedes dengan konsentrasi 0,5% adalah 17 ekor dengan standar deviasi 1,155. Pada
kematian larva aedes dengan konsentrasi 0,1% adalah 14 ekor dengan standar
variasi 0,577. Pada kematian larva aedes dengan konsentrasi 0,01 % adalah 8
ekor dengan standar variasi 1.
Hasil uji statistik didapat nilai p=0,0000, berarti pada alpa 5% dapat disimpulkan
ada perbedaan kematian larva aedes pada konsentrasi 1%, 0,5%, 0,1%, dan 0,01%.
Analisis lebih lanjut membuktikan bahwa kelompok yang berbeda signifikan adalah
konsentarsi 1% dengan konsentarsi 0,1%,
konsentrasi 1% dengan konsentrasi 0,01%, kensentrasi 0,5% dengan konsentrasi
0,1%, kensentrasi 0,5% dengan konsentrasi 0,01%
dan konsentrasi 0,1% dengan konsentrasi 0,01%.
Tabel 4.3
Hasil Uji Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk Aedes sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Biji Mahoni Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi
Perlakuan
|
Rata-rata
beda (ekor)
|
ρ value
|
|
kontrol
|
1%
|
-20.000
|
0.000
|
0,5%
|
-17.667
|
0.000
|
|
0,1%
|
-13.667
|
0.000
|
|
0,01%
|
-8.000
|
0.000
|
|
1%
|
0,5%
|
3.333
|
0.002
|
0,1%
|
6.333
|
0.000
|
|
0,01%
|
12.000
|
0.000
|
|
0,5%
|
0,1%
|
3.000
|
0.003
|
0,01%
|
8.667
|
0.005
|
|
0,1%
|
0,01%
|
5.677
|
0.000
|
Analisis lebih lanjut
memperlihatkan bahwa ada perbedaan rata-rata konsentrasi biji mahoni 1%, 0,5%,
0,1%, dan 0,01% . Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa konsentrasi biji
mahoni yang paling efektif adalah konsentrasi 1%.
Pembahasan
Berdasarkan Uji hasil analisis univariat pada tabel 4.3
variasi konsentrasi ekstrak biji mahoni (Swietenia
mahagoni Jacq) memiliki tingkat keefektifan yang berbeda-beda. Hasil
rata-rata persentase kematian larva Aedes
sp tiap variasi konsentrasi (1%, 0,5%, 0,1%, 0,01%). Hasil rata-rata jumlah
larva yang mati dalam berbagai konsentrasi yang dilakukan secara 3 kali
pengulangan yaitu pada konsentrasi ekstark biji mahoni 1% didapatkan jumlah
larva yang mati 20 ekor, pada ekstrak biji mahoni konsentrasi 0,5% didapatkan
larva yang mati 16,67 ekor, pada ekstrak biji mahoni konsentrasi 0,1%
didapatkan larva yang mati 13,67 ekor dan pada ekstrak biji mahoni konsentrasi
0,01% didapatkan larva yang mati 8 ekor. Hal ini membuktikan bahwa keefektifan
konsentrasi terletak di konsentrasi biji mahoni 1% terbukti setelah dilakukan 3
kali pengulangan larva nyamuk yang mati 20 ekor atau persentase 100% ini di
karenakan sesuai dengan peran ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) tersebut yang mengandung senyawa alkaloid, saponin, dan flavonoid yang dimana apabila senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh larva maka alat pencernaa
larva akan terganggu. Selain itu juga, dapat menghambat reseptor perasa pada
mulut larva yang menyebabkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga
tidak mampu mengenali makanan. Juga menghambat kerja hormon pada larva yaitu hormon otak, hormon edikson,
dan hormon pertumbuhan. Serta fungsi lainnya yaitu menghambat fungsi saraf,
enzim kolinesterase sehingga akan
terjadi gangguan transmisi rangsang yang menyebabkan menurunya koordinasi otot,
konvulsi, dan kematian pada larva.
Hasil analisis bivariat pada tabel 4.2 yaitu uji One Way Anova diketahui bahwa ekstrak
biji mahoni (Swietenia mahagoni Jacq)
mempunyai kemampuan untuk mematikan larva Aedes
sp. Perbedaan rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 1% adalah
20, rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 0,5% adalah 16,67,
rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 0,1% adalah 13,67, sedangkan
rata-rata kematian larva Aedes sp pada konsentrasi 0,01% adalah 8. Selanjutnya,
untuk mengetahui perbedaan efektivitas konsentrasi biji mahoni terhadap
kematian larva Aedes sp, dilakukan uji bonferroni
sehingga diperoleh hasil bahwa ekstrak biji mahoni dan konsentrasi 1% efektif
terhadap kematian larva Aedes, dengan
nilai ρ value < 0,05 yang berarti
Ho ditolak dan Ha diterima.
Penelitian ini menggunakan 4 variasi konsentrasi ekstrak biji
mahoni (Swietenia mahagoni Jacq).
Variasi konsentrasi tersebut digunakan sebagai pembanding pada masing-masing
perlakuan dan kontrol sebagai
penentu apakah kinerja penelitian yang
dilakukan sudah benar dan sebagai penentu keefektivitasan dari ke empat variasi
konsentrasi yang telah digunakan.
Lama perkembangbiakan larva dipengaruhi oleh suhu, ketersediaan
makanan, dan kepadatan larva pada tempat perindukan. Suhu ruangan tempat
dilakukannya penelitian telah diukur dan berkisar antara 26-28oC,
ini berarti suhu pada saat penelitian memenuhi syarat dimana suhu optimal untuk
perkembangabiakan larva yaitu pada rentang suhu 25-30oC. Suhu
merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses penelitian,
karena jika kurang dari 10oC atau lebih 40oC maka
perkembangan telur larva aedes sp
akan terhenti dan mati. Larva akan mati apalagi kedinginan atau kepanasan
Pengukuran pH air tempat perindukan menggunakan kertas lakmus didapatkan pH air
7, sedangkan pH optimal yang diperlukan untuk perkembangan larva ialah 6,8-8,5,
berarti pH air memenuhi syarat pH optimal untuk perkambangan larva.
Hal yang utama
dalam menekan populasi larva adalah menggunakan berbagai larvasida, baik secara
biologis maupun kimiawi. Larvasida yang biasa digunakan biasanya terbatas pada
wadah yang dipertahankan atau digunakan di rumah tangga dan tidak dapat
dibuang, seperti wadah penyimpanan air, kolam, vas bunga, dan sebagainya
(Ginanjar, 2007). Larvasida kimiawi yang telah digunakan dimasyarakat indonesia
ialah abate yang masuk dalam program kegiatan pemberantasan sarang nyamuk
(PSN).
Abate merupakan nama dagang dari temephosdengan formulasi granules,
yaitu insektisida golongan organofosfat, terutama digunakan untuk
pengendalian larva A. aegypti ditempat penampungan air , dengan
konsentrasi 1 ppm atau 10 g untuk tiap 100 liter air dan mempunyai efek residu
selama 3 bulan (Sutanto, 2008). Penggunaannya pada tempat penampungan
air minum telah dinyatakan aman oleh World Health Organization (WHO) dan
Departemen Kesehatan RI. Walaupun demikian, abate adalah larvasida yang
mengandung zat aktif suatu organofosfat (temephos), umumnya unsur fosfat
sangat berbahaya bagi manusia (Achmadi, 2008). Temephos mengandung
senyawa beracun, hal ini disebabkan oleh toksisitas tinggi dari xylene,
yaitu salah satu komponen yang ditemukan dalam produk abate. Ciri khas
insektisida orpganofosfat yang lain adalah temephos menghambat aksi dari
kelompok enzim yang disebut cholinesterase. Jenis spesifik enzim ini
ditemukan di seluruh tubuh termasuk sistem saraf, otak, dan aliran darah.
Gejala pemaparan akut juga mencakup mual, sakit kepala, kehilangan koordinasi
otot, dan kesulitan bernapas. Oleh karena itu perlu dilakukan
suatu usaha untuk mendapatkan insektisida alternatif yaitu menggunakan
insektisida alami, yaitu insektisida yang dihasilkan oleh tanaman beracun
terhadap serangga, tetapi tidak mempunyai efek samping terhadap lingkungan
serta manusia.
Penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Nana
Setiani di Universitas Gadja Mada pada tahun 2010 memaparkan Uji Larvasida Infus Biji Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) terhadap Larva Nyamuk Aedes
aegypti. Dalam melakukan penelitiannya, Nana Setiani menggunakan metode infus dan menunjukkan bahwa
ekstrak biji mahoni mempunyai kemampuan dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti dengan konsentrasi 10%
ekstrak biji mahoni membunuh 100% larva dalam waktu 24 jam.
Simpulan
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah di lakukan terhadap sampel dapat di ambil
kesimpulan yaitu jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji
mahoni dengan konsentrasi 1% adalah 20 ekor, jumlah rata-rata larva yang mati
pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 0,5% adalah 17, jumlah
rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan
konsentrasi 0,1% adalah 14 ekor, jumlah rata-rata larva yang mati pada
penambahan ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 0,01% adalah 8 ekor, dan efektivitas
konsentrasi biji mahoni (Swietenia
mahagoni Jacq.) sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Aedes sp terdapat
pada konsentrasi 1% serta
ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes
sp yang mati pada penambahan ekstrak biji mahoni dengan berbagai variasi
konsentrasi dengan selisih beda nilai ρ value <0,05. Dari 20 larva sebagai
obyek penelitian dengan 3 kali pengulangan kosentrasi 1% dapat membunuh larva
sebanyak 60 ekor (100%), konsentrasi 0,5% dapat membunuh larva sebanyak 50 ekor
(83%), konsentrasi 0,1% dapat membunuh larva sebanyak 41 ekor (68%), dan
konsentrasi 0,01% dapat membunuh larva sebanyak 24 ekor (40).
Daftar Rujukan
Achmadi. 2008. Manajemen
Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta: Rajawali Pers.
Depkes RI.
2004. Buletin Harian Perilaku dan Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti Sangat Penting Diketahui dalam Melakukan Kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk Termasuk Pemantauan Jentik Berkala.
Ditjen P2M & PL. Jakarta.
_________. 2005.
Pencegahan
dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Ditjen PP
& PL. Jakarta.
Dinkes Kota
Bengkulu. 2011. Profil Kesehatan Kota
Bengkulu 2010.
__________________. 2012. Profil Kesehatan Kota Bengkulu 2011.
__________________. 2013. Profil Kesehatan Kota Bengkulu 2012.
Dinkes
Provinsi Bengkulu. 2010. Profil Kesehatan
Provinsi Bengkulu 2010.
_____________________. 2011. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu 2011.
_____________________. 2012. Profil
Kesehatan Provinsi Bengkulu 2012.
Dirjen PP dan PL. 2011.
Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue.
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Dwi, A. 2010. Daya Bunuh
Ekstrak Biji Mahoni (Swietenia
mahagoni Jacq.)terhadap Nyamuk Aedes aegypti.
Ginanjar. 2008. Demam Berdarah a survival quide Cet. 1. Yogyakarta. B First (PT
Benteng Pustaka).
Hadi.
1997. Berbagai Cara Pemberantasan Larva. Jurnal:
Cermin Dunia Kedokteran.
Herms, W. 2006. Medical Entomology.
The Macmillan Company, United States of America.
Kardinan. 2007. Potensi Salasih Sebagai Repellent Terhadap
Nyamuk Aedes aegypti, Jurnal Littri
Vol. 13, No. 2, Juni 2007 : 39-42.
Kementrian Kesehatan RI. 2010. Demam Berdarah Dengue. Buletin
Jendela Epidemiologi. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian
Kesehatan RI. Jakarta.
_______________________. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012, Jakarta.
Kristanto, H. 2005. Tumbuhan obat dan khasiatnya. Jakarta:
Penebar Swadaya
Lenny. 2006. Senyawa
Flavonoid, Fenilpropanoida dan Alkaloida. Medan :
Fak.
MIPA. USU.
Notoatmodjo. 2010. Metodelogi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Purnama, S. 2010. Pengendalian Vektor DBD. Semarang
Sembel. 2009.
Entomologi
Kedokteran. Yogyakarta: C.V. Andi Offset.
Setiana, N. 2010. Uji Larvasida Infus Biji Mahoni (Swietenia
mahagoni Jacq) terhadap Larva Nyamuk Aedes
aegypti.
Soedarto.
2009. Penyakit Menular di Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Soegijanto, S. 2006. Epidemilogi Demam Berdarah Dengue, dalam
Demam Berdarah Dengue Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press. Hal
1-10.
Sudrajat.
2009. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah.
Bandung : CV. Pustaka Setia.
Sutanto
et al, 2008. Parasitologi
Kedokteran. Jakarta : FKUI
WHO. 2010. Dengue: Guidlines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New
Edition. Geneva: World Health Organization.
Yatim,
F. 2007. Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya Jilid 2.
Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Zulkoni, A. 2011. Parasitologi: Yokyakarta: Maha medika.